Jumat, 27 Februari 2026, menjadi momentum penting bagi umat Islam di Indonesia untuk kembali merenungi makna ibadah di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Di tengah berlangsungnya puasa, khotbah Jumat menyerukan penguatan takwa sebagai fondasi utama dalam menjalani setiap amalan. Pesan ini relevan mengingat Ramadan telah memasuki pekan pertamanya, di mana sebagian besar umat Islam memulai puasa pada 18 atau 19 Februari 2026.
Ramadan: Madrasah Spiritual Menuju Takwa
Bulan Ramadan, yang kerap disebut sebagai ‘madrasah ruhani’, adalah waktu yang istimewa bagi umat Muslim untuk melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri. Tujuan utama dari ibadah puasa, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183, adalah agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa sendiri dimaknai sebagai kesadaran mendalam akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan, yang memunculkan rasa patuh dan takut kepada-Nya.
Dr. M. Ikhwan Ahada, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, pernah menjelaskan bahwa takwa memiliki beberapa komponen penting. Ini meliputi menanamkan rasa takut kepada Allah SWT yang diiringi cinta, senantiasa beramal sesuai petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah, menjauhi larangan-Nya, memiliki visi hidup yang berorientasi akhirat, serta rida terhadap segala ketetapan Allah SWT.
Amalan dan Persiapan Mengukuhkan Takwa
Dalam khotbah Jumat yang disampaikan, jamaah diingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga kesempatan untuk membersihkan hati dari segala penyakit batin seperti dengki, dendam, atau riya. Persiapan menyambut dan menjalani Ramadan tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga mental, spiritual, dan sosial.
Beberapa amalan yang dianjurkan untuk mengukuhkan takwa selama Ramadan antara lain memperbanyak taubat dan istighfar, membaca Al-Qur’an, serta membiasakan salat sunah dan berzikir. Selain itu, umat Islam juga didorong untuk memperbanyak sedekah, infak, dan zakat sebagai wujud kepedulian sosial. Penting pula untuk menjaga lisan dan hati dari perbuatan tercela, seperti berbicara kasar, mudah marah, atau bergosip, agar ibadah puasa lebih berkualitas.
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya, pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
Hadis Rasulullah SAW ini menjadi pengingat akan kemuliaan bulan Ramadan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan setiap detik di bulan ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Doa yang diajarkan Rasulullah SAW, “Ya Allah, sampaikan aku [dengan selamat menuju bulan] Ramadan. Sampaikanlah Ramadan kepadaku, serta terimalah bulan Ramadan tersebut dari kami,” (Allahumma salimni min ramadlana wa sallim ramadlana lî wa tasallamhu minni mutaqabbalan) menjadi penguat niat dalam menjalani ibadah.
Ramadan sebagai Momentum Transformasi Diri
Bulan suci ini adalah kesempatan emas untuk memulai kembali dan melakukan transformasi diri secara totalitas. Dengan mengendalikan nafsu dan melatih kesabaran, umat Muslim dapat meningkatkan kesadaran diri untuk menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Melalui persiapan yang matang dan amalan yang tulus, Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan tangga menuju ampunan dan derajat tinggi di sisi Allah SWT.