Kilang minyak Ras Tanura milik raksasa energi Saudi Aramco di Arab Saudi menjadi sasaran serangan drone pada Senin, 2 Maret 2026, memicu kebakaran kecil dan dilaporkan mengganggu operasional fasilitas vital tersebut. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan serangan balasan di infrastruktur energi Teluk, yang merupakan bagian dari konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Laporan awal menyebutkan bahwa serangan drone tersebut menyebabkan kebakaran kecil yang terisolasi di fasilitas Ras Tanura. Api berhasil dipadamkan dengan cepat, dan tidak ada laporan mengenai kerusakan besar atau korban jiwa akibat insiden tersebut. Meski demikian, operasional kilang Ras Tanura dilaporkan dihentikan atau dikurangi secara signifikan sebagai langkah pencegahan.
Ras Tanura merupakan salah satu kilang terbesar dan tertua di dunia, dengan kapasitas sekitar 550.000 barel per hari. Fasilitas ini juga berfungsi sebagai terminal ekspor utama di pantai timur Arab Saudi, yang berperan krusial dalam stabilisasi, pemrosesan, dan pemuatan minyak mentah untuk pasar global.
Serangan ini secara luas dikaitkan dengan kelompok-kelompok yang didukung Iran, termasuk kemungkinan pasukan Houthi dari Yaman atau drone yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Motivasi di balik serangan tersebut disebut-sebut sebagai balasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel, serta sebagai respons terhadap Operasi Epic Fury yang menargetkan situs militer dan nuklir Iran.
Pasar minyak global segera bereaksi terhadap kabar ini. Harga minyak mentah Brent melonjak tajam antara 8,5% hingga 9,32% setelah laporan serangan dan penutupan kilang, mencerminkan kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Kementerian Energi Saudi dan Saudi Aramco telah mengutuk insiden ini sebagai “agresi teroris”. Mereka menyatakan telah mengaktifkan protokol darurat dan menekankan ketahanan infrastruktur energi mereka. Kerajaan Arab Saudi berjanji akan mempertahankan aset energinya sambil memastikan stabilitas pasokan global.
Insiden di Ras Tanura ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi kekacauan pasar energi yang lebih luas, risiko di Selat Hormuz, dan dampak lanjutan dari konflik Timur Tengah terhadap harga global serta keamanan pasokan. Pada hari yang sama, Kuwait juga melaporkan telah mencegat drone musuh, mengindikasikan eskalasi regional yang lebih luas. Serangan ini juga mengingatkan pada insiden Abqaiq-Khurais pada tahun 2019, yang sempat memangkas separuh produksi minyak Saudi dan memicu lonjakan harga global.