Sebuah kilang minyak besar di Yaroslavl, Rusia tengah, kembali menjadi sasaran serangan drone Ukraina pada Jumat dini hari, 28 Maret 2026, memicu kebakaran di fasilitas vital tersebut. Insiden ini menambah daftar panjang serangan serupa yang menargetkan infrastruktur energi Rusia dalam beberapa bulan terakhir.
Kilang minyak yang diserang diidentifikasi sebagai Slavneft-YANOS, salah satu dari lima kilang terbesar di Rusia. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi lebih dari 15 juta ton per tahun dan merupakan produsen utama bahan bakar seperti bensin, solar, minyak, dan bitumen.
Detail Serangan dan Lokasi Strategis
Menurut laporan saluran berita Telegram Exilenova Plus, drone Ukraina menghantam kilang minyak Slavneft-YANOS pada malam hari tanggal 28 Maret. Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina juga mengklaim bahwa serangan tercatat di wilayah kilang tersebut, yang kemudian disusul oleh kebakaran. Kota Yaroslavl sendiri terletak sekitar 700 kilometer (435 mil) dari perbatasan Ukraina dan sekitar 230 kilometer (142 mil) timur laut Moskow.
Gubernur Oblast Yaroslavl, Mikhail Yevrayev, sebelumnya telah mengeluarkan peringatan ancaman serangan drone di wilayah tersebut. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan telah menembak jatuh atau mencegat 155 drone Ukraina di 16 wilayah pada malam yang sama, termasuk di Semenanjung Krimea yang diduduki dan Moskow, namun tidak merinci apakah ada yang berhasil mencapai targetnya.
Serangan Berulang dan Dampak Ekonomi
Serangan terhadap kilang Yaroslavl ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada 12 Desember 2025, Staf Umum Ukraina juga mengonfirmasi serangan drone terhadap kilang Slavneft-YANOS, dengan warga setempat melaporkan ledakan dan kebakaran. Selain itu, pada 31 Desember 2025, drone dari Dinas Keamanan Ukraina (SBU) dilaporkan menyerang depot minyak Temp di Rybinsk, wilayah Yaroslavl. Pada 5 November 2025, stasiun pompa minyak di dua distrik di wilayah Yaroslavl juga mengalami kerusakan akibat serangan drone.
Kyiv secara konsisten menyatakan bahwa fasilitas minyak Rusia adalah target militer yang sah karena secara langsung mendanai perang Rusia di Ukraina. Serangan-serangan ini telah menimbulkan dampak signifikan pada sektor energi Rusia. Laporan menunjukkan bahwa serangan drone Ukraina telah mengganggu sekitar 40% kapasitas ekspor minyak Rusia. Bahkan, pada September 2025, pemerintah Rusia sempat melarang ekspor bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun akibat serangan drone Ukraina yang menyasar kilang minyak.
Eskalasi konflik ini terlihat dari semakin meluasnya serangan drone dan rudal ke wilayah kedua belah pihak. Serangan terbaru di Yaroslavl terjadi setelah serangkaian serangan lain yang menargetkan fasilitas minyak Rusia, termasuk terminal minyak di Ust-Luga dan Primorsk pada 27 Maret 2026, serta kilang Kirishi pada 26 Maret 2026.