PT Pertamina (Persero), melalui Subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan PT Pertamina Patra Niaga (PPN), semakin memantapkan langkah dalam pengembangan energi rendah karbon. Dua kilang strategisnya, Kilang Dumai di Riau dan Kilang Balongan di Jawa Barat, kini telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan internasional dan siap memulai uji coba produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) atau bioavtur berbahan baku minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) pada tahun 2026.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menegaskan bahwa keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam persiapan produksi PertaminaSAF berbasis UCO. Pengakuan ini menandakan bahwa kedua kilang tersebut telah memenuhi standar keberlanjutan global yang menjadi syarat wajib dalam produksi serta perdagangan SAF di pasar internasional.
Replikasi Sukses Kilang Cilacap
Pengembangan produksi bioavtur di Kilang Dumai dan Balongan merupakan replikasi dari keberhasilan yang telah dicapai di Kilang Cilacap (Refinery Unit IV). Kilang Cilacap telah menjadi perintis dalam produksi SAF berbahan baku minyak jelantah sejak tahun 2025, dengan campuran awal 2,5 persen. Sebelumnya, Kilang Cilacap juga telah memproduksi bioavtur dengan campuran produk sawit, Refined Bleach Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO), dengan kapasitas pengolahan mencapai 9.000 barel per hari.
Direktur Utama PT KPI, Taufik Aditiyawarman, mengungkapkan bahwa untuk mencapai target produksi bioavtur 100% pada tahun 2026, perusahaan tengah menyelesaikan fase 2 Green Refinery Cilacap. Ia menambahkan bahwa bahan baku yang digunakan akan bersifat ‘multiple feedstock’, tidak hanya minyak sawit, tetapi juga minyak jelantah hingga lemak binatang.
Target dan Potensi Produksi
Uji coba produksi SAF dari minyak jelantah di Kilang Balongan dan Dumai ditargetkan dapat berjalan pada semester II tahun 2026. Direktur Operasi KPI, Didik Bahagia, memproyeksikan bahwa replikasi di Balongan saja mampu mengolah sekitar 38.000 kiloliter UCO per tahun, dengan potensi produksi SAF mencapai sekitar 1,23 juta kiloliter per tahun. Jumlah ini diperkirakan tidak hanya mencukupi kebutuhan avtur ramah lingkungan bagi penerbangan domestik, tetapi juga membuka peluang ekspor.
Produksi bioavtur ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon hingga 84 persen dibandingkan dengan avtur fosil. Hal ini sejalan dengan komitmen Pertamina untuk mendukung transisi energi dan program pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional serta implementasi mandatori penggunaan SAF. Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan mandatori campuran SAF sebesar 5% untuk penerbangan internasional pada tahun 2035.
Dukungan Ekosistem dan Uji Terbang
Untuk memastikan pasokan bahan baku yang stabil, Pertamina juga merangkul masyarakat melalui program pengumpulan minyak jelantah di berbagai titik, termasuk SPBU. Selain itu, Pertamina telah membangun sinergi lintas pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir untuk menciptakan ekosistem SAF yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Produk PertaminaSAF telah melewati uji laboratorium KPI dan Lemigas, serta memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan DefStan 91-091. Keberhasilan ini juga telah dibuktikan melalui uji terbang komersial. Maskapai Pelita Air Service telah menggunakan SAF berbasis UCO untuk penerbangan rute Jakarta-Denpasar pada pertengahan Agustus 2025. Sebelumnya, Garuda Indonesia juga telah melakukan uji terbang dengan Boeing 737-800 pada Oktober 2023.