Kinerja Bank Jumbo 2025 Bervariasi, Prospek Saham Perbankan 2026 Diprediksi Bangkit

Empat bank raksasa di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (), telah merilis laporan keuangan tahunan untuk periode 2025 dengan hasil yang bervariasi. Meskipun demikian, para analis pasar optimistis terhadap prospek pada tahun 2026, memprediksi adanya fase pemulihan yang signifikan.

BBCA Pimpin Laba Bersih, BBRI dan BBNI Alami Koreksi

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil membukukan laba bersih konsolidasi tertinggi di antara empat bank jumbo tersebut, mencapai Rp 57,5 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 4,9% secara tahunan (yoy) dibandingkan dengan laba Rp 54,8 triliun pada tahun 2024. Laba bersih per saham BBCA tercatat sebesar Rp 471,62 per lembar. Pertumbuhan laba ini ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh 7,7% yoy menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025, serta pendapatan operasional yang naik 5,4% yoy menjadi Rp 111,1 triliun. Rasio kredit bermasalah (NPL) BBCA juga tetap terkendali di level 1,7%, dengan rasio *loan at risk* (LAR) membaik menjadi 4,8% dari 5,3% pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 57,13 triliun pada tahun 2025. Namun, capaian ini mengalami penurunan 5,26% (yoy) dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp 60,30 triliun. Penurunan laba BBRI sebagian besar disebabkan oleh kenaikan alokasi dana pencadangan yang mencapai Rp 46,09 triliun di tahun 2025. Meskipun demikian, penyaluran kredit BBRI masih tumbuh solid sebesar 12,31% yoy menjadi Rp 1.521,49 triliun. Laba bersih per saham BBRI berada di angka Rp 377,57 per lembar.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melaporkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 56,3 triliun untuk tahun 2025, menunjukkan kenaikan tipis 0,93% (yoy) dari Rp 55,8 triliun di tahun 2024. Aset Bank Mandiri juga tumbuh signifikan sebesar 18,7% yoy. Laba bersih per saham BMRI tercatat Rp 609,24 per lembar.

Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 20,04 triliun sepanjang tahun 2025, terkoreksi 6,63% (yoy) dari Rp 21,46 triliun pada tahun 2024. Penurunan ini diakibatkan oleh tingginya beban bunga karena kenaikan *cost of fund* serta beban provisi. Meskipun demikian, BBNI berhasil mencatat pertumbuhan kredit yang kuat sebesar 15,9% yoy, didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (CASA) sebesar 28,9% yoy. Total aset BBNI meningkat 20,53% menjadi Rp 1.362 triliun. Laba bersih per saham BBNI adalah Rp 542,75 per lembar.

Prospek Saham Perbankan 2026: Pemulihan Didorong Suku Bunga dan Kredit

Setelah periode yang bervariasi di tahun 2025, sektor perbankan Indonesia diproyeksikan memasuki fase pemulihan yang lebih cerah pada tahun 2026. Analis dari berbagai sekuritas melihat tahun ini sebagai titik balik pertumbuhan laba.

Sentimen utama pemicu kebangkitan ini adalah potensi penurunan suku bunga acuan, perbaikan penyaluran kredit, likuiditas yang lebih longgar, serta suku bunga yang cenderung stabil. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 dapat mencapai dua digit, di kisaran 10-12%, didukung oleh perpanjangan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah senilai Rp 200 triliun. Henan Putihrai Sekuritas memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan mencapai 8,9% secara tahunan, terutama ditopang oleh segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kredit konsumer. Indo Premier Sekuritas bahkan memproyeksikan pertumbuhan kredit bank-bank besar sekitar 9-11% pada 2026, didorong oleh program pemerintah seperti Koperasi Desa Mandiri Pangan (KDMP) yang membutuhkan pembiayaan sekitar Rp 240 triliun.

Dari sisi profitabilitas, laba bersih bank berpeluang tumbuh lebih signifikan karena membaiknya kualitas kredit yang akan menurunkan beban provisi. RHB Sekuritas memprediksi laba perbankan akan tumbuh positif pada akhir 2026, dengan pertumbuhan laba tahun penuh 2026 diperkirakan 12% secara tahunan untuk bank dalam cakupan riset mereka. Ciptadana Sekuritas juga memproyeksikan laba sektor perbankan berpotensi *rebound* 10,7% pada 2026.

Tantangan dan Rekomendasi Analis

Meskipun prospek cerah, sektor perbankan masih menghadapi beberapa tantangan. Tekanan pada margin bunga bersih (NIM) diperkirakan masih akan berlanjut, dengan proyeksi kontraksi 10-20 basis poin pada 2026 akibat penurunan suku bunga. Selain itu, biaya dana (*cost of fund*) diperkirakan tetap tinggi karena kondisi likuiditas yang ketat. Kualitas aset juga menjadi faktor pembeda, di mana NPL sektor perbankan belum sepenuhnya keluar dari fase kenaikan, khususnya pada segmen kredit konsumer dan UMKM.

Menyikapi kondisi ini, analis menyarankan strategi investasi *front-running* atau akumulasi bertahap pada saham perbankan saat valuasi masih diskon, sebelum sentimen penurunan suku bunga benar-benar terealisasi. RHB Sekuritas mempertahankan rating *overweight* untuk sektor ini. BBCA menjadi pilihan utama (*top pick*) karena profil pendapatan yang lebih aman dan kualitas aset yang lebih solid dibandingkan dengan bank lain.

Berikut adalah target harga saham bank besar untuk tahun 2026 menurut analis Wafi: BBRI di level Rp 5.800, BMRI Rp 7.800, BBCA Rp 11.200, dan BBNI Rp 5.200.