Klaim F-16 Pakistan Ditembak Jatuh Afghanistan Terbantah, Konflik Perbatasan Justru Memanas

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

Klaim yang beredar luas di media sosial mengenai jatuhnya jet tempur akibat tembakan pasukan pada tahun 2023 lalu telah dibantah oleh berbagai pihak dan terbukti tidak berdasar. Namun, di tengah informasi yang tidak akurat tersebut, hubungan antara Afghanistan dan Pakistan justru mengalami eskalasi ketegangan yang signifikan, ditandai dengan serangkaian serangan udara lintas batas dan bentrokan bersenjata hingga Februari 2026.

Pada Minggu, 22 Februari 2026, Pakistan melancarkan serangan udara di wilayah timur Afghanistan, menargetkan lokasi yang disebut sebagai kamp pelatihan dan persembunyian kelompok militan di Provinsi Nangarhar dan Paktika. Operasi militer ini diklaim Islamabad sebagai respons terhadap gelombang serangan bom bunuh diri di wilayahnya yang dikaitkan dengan kelompok Tehrik-i- Pakistan (TTP) dan afiliasi regional ISIS. Namun, Kementerian Pertahanan Afghanistan membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa serangan Pakistan justru mengakibatkan puluhan korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, serta menghantam madrasah dan rumah penduduk. Situasi di wilayah terdampak dilaporkan masih mencekam dengan upaya evakuasi korban yang terus berlangsung.

Eskalasi terbaru ini memperburuk ketegangan yang telah berlangsung sejak bentrokan perbatasan pada Oktober 2025. Sejak kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan pada Agustus 2021, hubungan kedua negara terus memburuk. Pakistan secara konsisten menuduh pemerintah Taliban di Kabul melindungi dan mendukung kelompok militan seperti TTP dan Balochistan Liberation Army (BLA) yang melancarkan serangan mematikan di wilayah Pakistan. Tuduhan ini dibantah keras oleh Afghanistan, yang menegaskan tidak ada kelompok militan yang beroperasi dari wilayahnya untuk menyerang Pakistan.

Pada Oktober 2025, ketegangan memuncak ketika Pakistan melancarkan serangan udara di Kabul, Khost, Jalalabad, dan Paktika, dalam operasi yang dinamai “Operation Khyber Storm”, dengan target utama pemimpin TTP, Noor Wali Mehsud. Sebagai balasan, Taliban Afghanistan melancarkan serangan terhadap pos-pos militer Pakistan di sepanjang Garis Durand. Bentrokan tersebut menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya di kedua belah pihak, dengan laporan Afghanistan menyebutkan 43-48 korban tewas. Gencatan senjata sempat disepakati pada 19 Oktober 2025, melalui mediasi Qatar dan Turki, di mana Kabul berjanji untuk menindak aktivitas militan dan kedua negara sepakat menghormati integritas teritorial. Namun, gencatan senjata tersebut terbukti rapuh.

Mengenai klaim jatuhnya jet tempur F-16 Pakistan, berbagai laporan dan analisis menunjukkan bahwa video yang beredar di media sosial pada 2023 dan kembali muncul pada Oktober 2025 adalah rekaman lama atau tidak terkait, seperti insiden jatuhnya jet tempur MiG-21 India pada Juli 2022. Tidak ada laporan kredibel dari media internasional terkemuka seperti Reuters, Al Jazeera, atau CNN yang mengonfirmasi Pakistan kehilangan pesawat tempur F-16 dalam insiden tersebut. Insiden F-16 Pakistan yang ditembak jatuh oleh Afghanistan pernah terjadi pada tahun 1987, meskipun Pakistan mengklaim pesawat tersebut jatuh di wilayahnya sendiri.

Konflik yang tak kunjung usai ini juga berakar pada sengketa Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.611 kilometer warisan kolonial Inggris, yang secara konsisten ditolak oleh Afghanistan sebagai batas internasional yang sah. Persaingan pengaruh di kawasan, termasuk keakraban Kabul dengan New Delhi, turut memperumit situasi. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, bahkan menyebut eskalasi terbaru ini sebagai “perang terbuka”, sementara juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengonfirmasi serangan balasan terhadap instalasi militer Pakistan di perbatasan.