Kolaborasi BREN dengan SLB Angkat Saham Barito Renewables, IHSG Nyaris Stagnan

Author Image

Bejo

27 Februari 2026

bren, barito renewables energy, ihsg, saham, energi terbarukan

PT Tbk () menunjukkan performa positif yang signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Februari 2026. Kenaikan ini didorong oleh katalis baru berupa penandatanganan perjanjian dan kerangka kerja kolaborasi strategis dengan perusahaan teknologi energi global, SLB, melalui anak usahanya, Star Energy Geothermal. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan () mengakhiri pekan dengan nyaris stagnan, setelah sempat tertekan sepanjang hari.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), saham BREN tercatat melonjak 375 poin atau setara 4,78 persen, mencapai level Rp 8.225. Kenaikan ini kontras dengan pergerakan IHSG yang hanya menguat tipis 0,22 poin ke level 8.235,48, setelah sempat melemah hingga 1,47 persen di awal perdagangan.

Katalis Baru dari Sektor Energi Terbarukan

Kolaborasi antara Star Energy Geothermal, entitas anak Barito Renewables Energy, dengan SLB menjadi sorotan utama. Riset terbaru dari Sucor Sekuritas menyebutkan bahwa kerja sama ini mencakup pengembangan teknologi pengeboran dan teknologi bawah permukaan. Selain itu, SLB juga akan memberikan dukungan terhadap proyek panas bumi Sekincau yang berlokasi di Lampung. Langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat posisi BREN sebagai pemain kunci dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia.

Secara fundamental, PT Barito Renewables Energy Tbk, bagian dari Grup Barito Pacific, memang berfokus pada penyediaan energi bersih melalui sumber panas bumi dan angin. Perusahaan ini mengoperasikan Star Energy Geothermal Group, produsen panas bumi terkemuka, serta memiliki PLTB Sidrap, pembangkit listrik tenaga angin terbesar di Indonesia. Prospek positif perusahaan juga didukung oleh penyelesaian tahap eksplorasi strategis yang membuka potensi target harga saham hingga Rp19.800 per saham.

Pergerakan Saham BREN dan Dukungan Institusional

BREN, yang merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 1.040,14 triliun per 25 Februari 2026, telah menarik minat investor institusional. Pada kuartal pertama 2026, saham BREN mengalami pembelian institusional yang signifikan, dipimpin oleh BlackRock Fund Advisors. Dalam 90 hari terakhir, harga saham BREN bergerak di rentang IDR 7.075,00 hingga IDR 9.875,00. Harga tertinggi dalam 52 minggu terakhir tercatat IDR 10.725,00 pada 10 November 2025, sementara harga terendah berada di IDR 4.170,00 pada 9 April 2025.

Masuknya BREN ke dalam indeks MSCI Indonesia Global Standard yang efektif sejak 25 November 2025 juga turut meningkatkan visibilitas saham di mata investor global. Namun, rencana Bursa Efek Indonesia untuk menaikkan batas minimum free float perusahaan tercatat menjadi 15 persen dari 7,5 persen dapat menjadi tantangan. BREN diperkirakan perlu menjual saham senilai lebih dari US$1,8 miliar untuk memenuhi ambang batas ini, yang berpotensi menekan valuasi.

Kinerja IHSG di Akhir Pekan

Sementara BREN bersinar, IHSG menunjukkan pergerakan yang kurang bertenaga pada Jumat (27/2/2026). Indeks sempat tertekan akibat koreksi saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Bank Central Asia (BBCA), dan Telkom Indonesia (TLKM). Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp 37,96 triliun dengan volume 45,76 miliar saham. Sebanyak 352 saham menguat, 338 melemah, dan 268 stagnan.

Secara sektoral, penguatan pada hari itu dipimpin oleh sektor transportasi yang melonjak 6,19 persen, diikuti oleh sektor industri dan teknologi. Namun, sektor keuangan dan infrastruktur masih berada di zona merah. Sebelumnya, pada Rabu (25/2/2026), IHSG sempat menguat 0,50 persen ke level 8.322,23, setelah terkoreksi 1,37 persen ke 8.280,83 pada Selasa (24/2/2026).

Prospek dan Tantangan Energi Terbarukan

Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Pada tahun 2026, pemerintah menganggarkan Rp37,5 triliun untuk mendorong investasi di sektor ini. Selain itu, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2035, ditargetkan pengembangan EBT hingga 50 Gigawatt dengan kebutuhan investasi sekitar Rp1.650 triliun. Ini menjadi peluang besar bagi perusahaan seperti BREN.

Namun, tantangan dalam transisi energi masih besar, termasuk infrastruktur yang belum memadai dan koordinasi kebijakan antarlembaga pemerintah yang lemah. Laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2026 menyoroti adanya kesenjangan antara target ambisius dan realisasi di lapangan. Meskipun demikian, International Energy Agency (IEA) memprediksi kapasitas listrik energi terbarukan global akan berlipat ganda pada 2030, dengan panas bumi diproyeksikan mencetak rekor pemasangan baru di pasar utama seperti Indonesia.