Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada awal Maret 2026, menyusul operasi militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang memicu serangan balasan masif dari Teheran. Insiden ini ditandai dengan gugurnya tiga personel militer AS, korban jiwa pertama dari pihak Amerika dalam konflik yang semakin meluas ini. Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, memicu respons keras dari Republik Islam Iran dan kekhawatiran global akan dampak ekonomi.
Korban Jiwa dan Klaim Serangan
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa tiga tentara AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius akibat serangan balasan Iran. Beberapa prajurit juga menderita luka ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak. Kematian ini menjadi korban jiwa pertama dari militer AS sejak Presiden Donald Trump mengumumkan dimulainya “operasi tempur besar” bertajuk Operasi Epic Fury pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Presiden Trump mengakui jatuhnya korban jiwa, menyatakan, “Ada tiga korban, dan kami memang memperkirakan akan ada korban.” Ia menambahkan bahwa “kemungkinan akan ada lebih banyak korban tewas sebelum ini berakhir. Begitulah adanya.” Trump juga memperkirakan operasi militer ini bisa berlangsung hingga empat minggu.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa serangan balasan mereka telah menewaskan dan melukai sedikitnya 560 personel militer AS di pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh Timur Tengah, termasuk di Bahrain. IRGC juga mengklaim telah menghantam kapal induk USS Abraham Lincoln dengan empat rudal balistik di kawasan Teluk. Namun, klaim ini dibantah tegas oleh CENTCOM, yang menyatakan rudal-rudal tersebut “bahkan tidak mendekat” dan USS Abraham Lincoln terus beroperasi mendukung kampanye militer.
Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran dan Balasan Teheran
Eskalasi konflik ini juga ditandai dengan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematiannya pada Minggu, 1 Maret 2026, setelah serangan udara gabungan AS dan Israel menghantam kompleks kediamannya di Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya, termasuk Mohammad Pakpour, Panglima Garda Revolusi Islam, dan Laksamana Ali Shamkhani, Kepala Dewan Militer.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran dengan ratusan rudal balistik dan drone ke berbagai target, termasuk wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Serangan rudal Iran di Israel dilaporkan menewaskan sembilan orang dan melukai 121 lainnya, dengan hantaman di Beit Shemesh dan Tel Aviv. Palang Merah Iran melaporkan 201 orang tewas dan 747 luka-luka di Iran akibat serangan AS-Israel, termasuk insiden mematikan di sebuah sekolah dasar putri di Minab yang menewaskan sedikitnya 148 orang.
Iran menegaskan bahwa serangan ini merupakan “perlawanan skala penuh” dan memperingatkan bahwa kemampuan militer terkuat mereka belum sepenuhnya dikerahkan. Pasca-kematian Khamenei, Iran mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan membentuk dewan beranggotakan tiga orang untuk memimpin negara sementara.
Dampak Global dan Kekhawatiran Ekonomi
Konflik yang memanas ini segera mengguncang pasar global. Kontrak berjangka saham AS anjlok, sementara harga minyak mentah melonjak lebih dari 8 persen, mendekati US$73 per barel, dengan prediksi bisa mencapai US$120 per barel. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi, terutama setelah kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang melayani sekitar 30% perdagangan minyak mentah dunia.
Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyerukan de-eskalasi dan solusi diplomatik untuk mencegah konflik regional yang lebih luas. Namun, eskalasi ini terjadi di tengah perundingan damai terkait program nuklir Iran di Swiss, yang dinilai sia-sia oleh Sekretaris Jenderal PBB. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan dampak besar terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global.