Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) pada awal Maret 2026 telah memicu gejolak signifikan di pasar komoditas global, terutama minyak mentah. Harga minyak Brent melonjak tajam, sementara Bitcoin menunjukkan respons yang relatif stabil meskipun sempat mengalami koreksi.
Pada pembukaan perdagangan Brent di London, Senin (2/3/2026), harga minyak mentah naik menjadi 80 dolar AS per barel. Angka ini mencerminkan kenaikan sekitar 13 persen dari harga penutupan Jumat (27/2/2026) yang berada di level 72,87 dolar AS per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan, diperdagangkan sekitar 72 dolar AS per barel pada Senin pagi, naik 7,3 persen dari 67 dolar AS per barel pada Jumat.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh serangan yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 1 Maret 2026, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan rudal balistik dan drone pada Minggu, 2 Maret 2026. Ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi kekhawatiran utama yang mendorong premi risiko pada harga minyak. Analis 0xNobler bahkan memperkirakan harga minyak mentah bisa melonjak hingga 120–130 dolar AS per barel jika gangguan pasokan berkepanjangan terjadi.
Respons Pasar Kripto di Tengah Gejolak
Di sisi lain, pasar kripto menunjukkan dinamika yang berbeda. Bitcoin sempat melemah setelah serangan awal AS terhadap Iran, namun kemudian rebound 2,3 persen ke sekitar 67.000 dolar AS pada Minggu sore waktu New York. Pada 2 Maret 2026, Bitcoin diperdagangkan di kisaran Rp1,12 miliar per koin, dengan koreksi tipis sekitar 0,61 persen dalam 24 jam terakhir. Meskipun demikian, secara harian, Bitcoin sempat menguat 0,62 persen dan terapresiasi 0,89 persen dalam 24 jam terakhir, diperdagangkan di 66.565,29 dolar AS per keping pada pukul 13:08 WIB.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai lonjakan harga minyak berpotensi memicu inflasi dan memperburuk sentimen risiko global, yang dalam jangka pendek bisa menekan pasar saham dan kripto secara bersamaan. Hal ini didukung oleh data yang menunjukkan korelasi Bitcoin terhadap indeks saham AS S&P 500 berada di kisaran 78 persen dalam tujuh hari terakhir. Namun, Calvin juga mencatat bahwa reaksi awal pasar menunjukkan kripto belum sepenuhnya berfungsi sebagai aset lindung nilai klasik seperti emas.
Meskipun demikian, Bitcoin menunjukkan daya tahan yang relatif lebih baik dibandingkan indeks saham utama Asia yang anjlok tajam pada Senin pagi. Nikkei Jepang sempat anjlok 2,15 persen, sementara Hang Seng Hong Kong turun 2,54 persen. Arus masuk ETF spot Bitcoin yang mencapai 787 juta dolar AS dalam sepekan terakhir juga menjadi sinyal bahwa investor institusional mulai kembali menyerap suplai di tengah ketidakpastian global.
Faktor Makroekonomi dan Proyeksi Bitcoin 2026
Pergerakan Bitcoin saat ini semakin dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global, kondisi likuiditas, dan perkembangan regulasi. Alex Thorn, Head of Research Galaxy, menyoroti lingkungan investasi yang kompleks dengan valuasi ekuitas yang tinggi, kondisi geopolitik yang kacau, serta perubahan arah kebijakan moneter. Fyqieh Fachrur dari Tokocrypto menambahkan bahwa Bitcoin memasuki tahun 2026 dengan struktur pasar yang berbeda, di mana peran investor institusional, ETF, dan regulasi akan semakin dominan.
Proyeksi harga Bitcoin untuk tahun 2026 bervariasi, mulai dari 65.000 dolar AS (skenario bearish) hingga 150.000 dolar AS (skenario bullish) menurut Indodax. Beberapa analis bahkan memproyeksikan rentang yang lebih lebar, dari 75.000 dolar AS hingga 225.000 dolar AS. Namun, Standard Chartered menurunkan perkiraan harga Bitcoin akhir 2026 menjadi 100.000 dolar AS dari 150.000 dolar AS sebelumnya, bahkan memperingatkan kemungkinan penurunan hingga 50.000 dolar AS sebelum stabil.
JPMorgan mengindikasikan bahwa pasar kripto saat ini kekurangan katalis kuat untuk keluar dari fase stagnasi, dengan investor menunggu kepastian regulasi seperti Clarity Act di AS. Sementara itu, penambangan Bitcoin ke-20 juta yang dijadwalkan pada Maret 2026 akan kembali menyoroti kelangkaan digital aset ini, sebuah kontras dengan kebijakan moneter fiat yang tidak pasti.