Konflik Iran-AS-Israel Picu Bursa Asia Merah dan Lonjakan Harga Minyak

konflik iran-israel, harga minyak mentah, bursa saham asia, selat hormuz, ihsg

Bursa saham di kawasan Asia Pasifik dibuka dalam zona merah pada perdagangan Senin (2/3/2026), menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ketegangan geopolitik ini segera memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off) di pasar global, mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman dan menyebabkan melonjak tajam.

Serangan yang dilancarkan pada Sabtu (28/2/2026) tersebut, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, telah memperuncing ketidakpastian di kawasan. Iran telah mengonfirmasi kematian Khamenei dan bersumpah akan melakukan pembalasan, termasuk potensi penutupan . “Peristiwa terbaru ini meningkatkan risiko retaliasi dan memperparah ketidakpastian di Timur Tengah,” ujar Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, pada Minggu (1/3/2026).

Harga Minyak Melonjak Signifikan

Dampak paling langsung dari eskalasi ini terlihat pada pasar komoditas energi. Harga minyak mentah Brent telah mencapai US$72,8 per barel, naik signifikan dari posisi awal tahun di US$60,9 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat menjadi US$67,02 per barel. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran serius akan terganggunya pasokan dari Timur Tengah, khususnya melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur distribusi minyak global yang sangat krusial, di mana sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak dunia melewatinya setiap hari. Analis energi di MST yang berbasis di Sydney, Australia, Saul Kavonic, menuturkan bahwa pemblokiran akses Selat Hormuz oleh Iran tidak dapat dihindari setelah eskalasi perang semakin memanas antara Iran dan AS-Israel. Jika pasokan terganggu, para pakar memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga US$80 per barel, bahkan menembus US$100 per barel.

IHSG Rawan Terkoreksi, Rupiah Tertekan

Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan () diperkirakan rawan terkoreksi. Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, menyatakan bahwa investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi di tengah ketegangan geopolitik global yang meningkat. “Secara teknikal support yang bisa diperhatikan jika terjadi penurunan ada di 8.025, 7.861 hingga 7.500,” kata Reyhan. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menambahkan bahwa IHSG rawan terkoreksi dengan support 8.187 dan resistance 8.281 karena kekhawatiran investor.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong pasar masuk ke fase risk-off, di mana investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman seperti emas dan obligasi. Harga emas tercatat menguat lebih dari 1 persen, sementara minyak mentah WTI dan Brent melonjak hampir 3 persen. Volatilitas global ini juga dapat memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dengan proyeksi bergerak di kisaran Rp16.800-Rp17.000 per dolar AS dalam sepekan ke depan.

Ancaman Inflasi dan Peluang Sektor Energi

Lonjakan harga minyak dunia berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta memicu inflasi di dalam negeri. Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, terutama BBM nonsubsidi. “Peningkatan harga ini tentu saja berpotensi mempengaruhi inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat pada umumnya,” kata Faisal.

Meskipun demikian, di tengah sentimen negatif ini, sektor energi dan komoditas berbasis logam dasar justru berpotensi diuntungkan. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak dan batu bara dapat menjadi penopang bagi sektor energi dan pertambangan. Emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) diperkirakan berpotensi mencatatkan apresiasi harga saham seiring proyeksi kenaikan pendapatan. Investor disarankan untuk mencermati saham-saham dengan fundamental solid dan prospek bisnis positif di sektor-sektor tersebut.