Konflik Iran-AS-Israel Picu Lonjakan Harga Minyak dan Gejolak Pasar Global

iran, amerika serikat, israel, pasar energi, harga minyak

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih pada awal Maret 2026, menyusul serangan yang dilancarkan dan terhadap . Eskalasi ini memicu respons keras dari Teheran, termasuk serangan balasan ke negara-negara Teluk tetangga dan ancaman serius untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Dampaknya langsung terasa di dan saham global, yang langsung bereaksi dengan volatilitas tinggi dan lonjakan harga komoditas.

Harga Minyak Melonjak, Selat Hormuz Terancam

Pada Senin, 2 Maret 2026, harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13% dalam perdagangan awal, mencapai level US$82 per barel, menandai rekor tertinggi dalam 14 bulan terakhir. Kenaikan ini terjadi setelah harga Brent ditutup di kisaran US$73 per barel pada Jumat sebelumnya. Lonjakan ini menambah tren kenaikan harga minyak yang kuat sepanjang tahun, di mana harga patokan internasional telah naik sekitar 20% sejak Januari.

Ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar. Meskipun secara teknis belum sepenuhnya ditutup, penarikan operator komersial, perusahaan minyak besar, dan perusahaan asuransi telah menciptakan penutupan de facto akibat tingginya premi asuransi. Jorge León, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, menyoroti bahwa gangguan ini secara efektif menghentikan sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari untuk mencapai pasar. Analis memperkirakan harga Brent dapat menyentuh US$100 per barel jika konflik terus memburuk.

Pasar Saham Global Bergejolak, Investor Beralih ke Aset Aman

Dampak konflik tidak hanya terbatas pada sektor energi. Pasar saham global juga merasakan tekanan signifikan. Indeks Nikkei 225 di Tokyo anjlok hampir 2,4% sebelum sedikit pulih, sementara pasar saham India seperti Nifty50 dan BSE Sensex mengalami penurunan tajam, dengan Sensex merosot lebih dari 1.000 poin. Bursa saham di Arab Saudi dan Mesir juga mencatat penurunan lebih dari 2%. Kontrak berjangka saham AS turun lebih dari 1%, mengindikasikan pembukaan Wall Street yang lebih rendah.

Dalam menghadapi ketidakpastian ini, investor secara masif beralih ke aset-aset yang dianggap aman (safe-haven). Harga emas naik 2,8% menjadi US$5.397,10 per ons, dan dolar AS menguat. Sebaliknya, mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia dan rand Afrika Selatan mengalami pelemahan.

Pandangan Analis dan Respons OPEC+

Para analis memberikan pandangan beragam namun cenderung waspada. Landon Derentz dari Atlantic Council menyatakan bahwa meskipun harga minyak akan naik, risiko terbesar adalah gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz. Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, memperingatkan bahwa penutupan penuh Selat Hormuz akan menyebabkan lonjakan harga yang “sangat tajam karena ketakutan semata” dan memicu inflasi global, mendorong ekonomi yang rapuh menuju resesi. Hamad Hussain, ekonom dari Capital Economics, memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak mentah yang bertahan di US$100 per barel dapat menambah 0,6-0,7% pada inflasi global.

Di tengah situasi ini, OPEC+ dalam pertemuan yang telah dijadwalkan menyetujui peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari. Keputusan ini mengejutkan beberapa analis yang mengharapkan respons lebih besar, namun mencerminkan manajemen risiko yang disengaja mengingat kapasitas cadangan OPEC+ terkonsentrasi di negara-negara yang kini menghadapi serangan rudal Iran.