Konflik Iran-AS-Israel: Selat Hormuz ‘Tertutup De Facto’, Pasokan Minyak Global Terancam

konflik, iran, israel, barel, minyak

Ketegangan militer yang memanas antara Iran di satu sisi, serta Amerika Serikat dan Israel di sisi lain, telah memicu krisis serius di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini, yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global, kini menghadapi situasi ‘tertutup de facto’ bagi sebagian besar kapal komersial, meskipun secara teknis tidak ada penutupan resmi.

Situasi ini muncul setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menyerang negara-negara Teluk tetangga. Konflik yang kini memasuki hari kedua pada Senin, 2 Maret 2026, telah mendorong perusahaan asuransi menarik cakupan dan menaikkan premi secara drastis, membuat transit di selat tersebut tidak layak secara ekonomi bagi sebagian besar operator.

Harga Minyak Melonjak, Ancaman Krisis Energi Global

Dampak langsung dari situasi ini terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13% pada pembukaan perdagangan Senin, mencapai kisaran US$82-90 per barel, level tertinggi dalam 14 bulan terakhir. Analis memperingatkan bahwa harga bisa terus merangkak naik, bahkan melampaui US$100 per barel jika gangguan berlanjut.

Dalam skenario terburuk, beberapa bank investasi dan analis memproyeksikan harga minyak dapat mencapai US$120-140 per barel, bahkan ada yang menyebut angka fantastis US$200-300 per barel jika terjadi gangguan pasokan yang signifikan dan berkepanjangan. Analisis JPMorgan Chase & Co. pada tahun 2025, yang masih relevan dalam diskusi pasar saat ini, menggambarkan penutupan Selat Hormuz sebagai “skenario terburuk” dalam konflik Israel-Iran, dengan proyeksi harga minyak mencapai US$120-130 per barel.

Kapasitas Produksi Terbatas dan Jalur Alternatif Minim

Para analis energi memperkirakan produsen minyak di Timur Tengah kemungkinan hanya dapat mempertahankan produksi selama “tidak lebih dari 25 hari” sebelum kejenuhan penyimpanan memaksa penghentian produksi secara mandatori. Perhitungan ini didasarkan pada tingkat produksi harian rata-rata 15,6 juta barel per hari dan total kapasitas penyimpanan 393 juta barel di tujuh negara Teluk.

Meskipun ada jalur pipa alternatif seperti Pipa Timur-Barat milik Saudi Aramco (berkapasitas 5-7 juta barel per hari) dan pipa Fujairah di Uni Emirat Arab, kapasitas ini terbatas dan tidak dapat sepenuhnya mengimbangi volume besar yang biasanya melewati Selat Hormuz. Diperkirakan hanya sekitar 2,6 hingga 7,5 juta barel per hari yang dapat dialihkan melalui jalur alternatif ini.

Asia Paling Rentan, OPEC+ Berupaya Stabilkan Pasar

Kawasan Asia menjadi yang paling rentan terhadap gangguan pasokan ini. Negara-negara seperti India, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada minyak dan gas yang transit melalui Selat Hormuz, sehingga menghadapi risiko pasokan yang akut.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Plus (OPEC+) telah menyetujui peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan April. Namun, sebagian besar kapasitas cadangan OPEC+ yang mencapai 3,5 juta barel per hari, terkonsentrasi di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, tidak dapat mencapai pasar global jika Selat Hormuz tetap tidak dapat diakses.

Situasi ini bukan lagi sekadar premi risiko geopolitik abstrak, melainkan gangguan pasokan nyata yang berdampak pada minyak mentah, produk olahan, LPG, dan LNG secara bersamaan. Jika berlarut-larut, konflik ini berpotensi memicu percepatan inflasi global sebesar 2-4 poin persentase dan meningkatkan probabilitas resesi global di atas 75%.