Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mencapai titik didih, memicu kekhawatiran serius akan disrupsi pasar gas global terparah sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Konflik yang meluas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini menyebabkan terhentinya total lalu lintas gas alam cair (LNG) di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.
Data pelacak kapal terbaru menunjukkan bahwa perdagangan LNG melalui selat sempit tersebut praktis terhenti. Setidaknya 11 kapal tanker LNG telah menghentikan pelayaran mereka, dengan perusahaan pelayaran raksasa Jepang, Nippon Yusen K.K dan Mitsui OSK Lines Ltd ADR, memerintahkan armadanya untuk menunggu di perairan yang lebih aman.
Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Dunia di Ambang Krisis
Selat Hormuz merupakan salah satu titik cekik (chokepoint) paling krusial di dunia, di mana sekitar 20% dari total ekspor LNG global dan 20-30% dari seluruh minyak dunia melintas setiap harinya. Gangguan di jalur ini secara langsung mengancam pasokan energi ke pasar internasional, terutama di Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada LNG dari kawasan Teluk.
Negara-negara tetangga Iran, seperti Qatar, adalah pemasok gas dunia terpenting. Lebih dari seperempat LNG yang dibeli oleh negara-negara Asia berasal dari Qatar, eksportir terbesar kedua di dunia. China, sebagai pembeli terbesar, mengimpor hampir sepertiga gasnya dari Qatar, diikuti oleh India sebagai importir terbesar kedua.
Tom Marzec-Manser, direktur LNG dan Gas wilayah Eropa di Wood Mackenzie, menyatakan, “Aktivitas kelautan apapun di Selat Hormuz akan menjadi kabar baik, demikian juga dengan perkembangan pada produksi LNG Qatar.” Media pemerintah Iran sendiri telah menggambarkan jalur air tersebut sebagai “praktis tertutup,” sementara Investing.com menegaskan bahwa “sama sekali ‘tidak ada pengganti'” untuk volume besar gas Qatar yang mengalir melalui jalur sempit ini.
Dampak Ekonomi dan Lonjakan Harga Energi
Eskalasi konflik ini telah memicu kekhawatiran lonjakan harga energi global. Analis pasar memperkirakan harga minyak mentah Brent dapat menembus US$100 per barel jika konflik terus memanas. Bahkan, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memproyeksikan harga minyak bisa melonjak lebih dari 100% dari level dasar, mencapai sekitar US$140 per barel pada awal Maret 2026 dalam skenario eskalasi militer berkelanjutan.
Harga gas alam juga menunjukkan volatilitas. Pada 27 Februari 2026, harga gas alam AS (Henry Hub) berada di sekitar US$2,86 per MMBtu. Namun, Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memproyeksikan harga spot Henry Hub rata-rata US$4,00 per MMBtu pada tahun 2026, naik 16% dari tahun 2025, didorong oleh lonjakan ekspor LNG di tengah produksi yang stagnan. Di Eropa, harga Gas TTF pada 27 Februari 2026 tercatat 31,89 EUR/MWh, namun diperkirakan akan diperdagangkan pada 32,34 EUR/MWh pada akhir kuartal ini.
Selain lonjakan harga, penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat memicu resesi ekonomi global, stagflasi, peningkatan biaya logistik, dan kenaikan harga pupuk karena gas alam adalah bahan baku utamanya. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahkan menyebut blokade ini sebagai “bunuh diri ekonomi” bagi Iran, namun mengakui dampaknya akan sangat merugikan negara-negara pengimpor. Tarif pengiriman laut (spot rate) dilaporkan sudah melonjak hingga 55% akibat eskalasi konflik.
Kronologi Eskalasi dan Ancaman Produksi
Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase berbahaya pada kuartal pertama 2026. Perundingan terkait program nuklir Iran gagal mencapai kesepakatan pada Januari 2026, memperburuk hubungan antara Teheran dan Washington. Pada 28 Februari 2026, pasukan gabungan AS dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi terhadap target strategis di Iran, yang kemudian direspons Iran dengan rudal balistik dan drone. Laporan mengenai meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, juga turut memanaskan situasi.
Krisis ini juga berisiko memicu umpan balik berbahaya dalam produksi. Fasilitas LNG memerlukan aliran kapal tanker yang stabil untuk menjaga unit pendingin mereka tetap beroperasi. Tanpa ekspor, negara-negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab mungkin terpaksa menghentikan produksi sepenuhnya. Iran sendiri memiliki cadangan gas alam terbesar kedua di dunia, menjadikannya pemain krusial dalam peta energi global.