Konflik Iran-Israel Memanas, Fasilitas Energi Jadi Sasaran Utama di Tengah Gejolak Pasar Global

iran, israel, konflik timur tengah, fasilitas energi, harga minyak

Ketegangan antara dan telah mencapai titik didih baru, dengan kedua belah pihak secara terbuka menargetkan vital di Timur Tengah. Eskalasi ini, yang semakin memanas pada pertengahan Maret 2026, memperkeruh upaya Amerika Serikat (AS) untuk meredam gejolak pasar global yang kian tidak stabil.

Serangan terbaru menunjukkan pola saling balas yang mengkhawatirkan. Israel dilaporkan menyerang ladang gas penting Iran, South Pars, serta distrik Asaluyeh yang merupakan pusat pemrosesan energi dari ladang tersebut. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas gas alam cair (LNG) utama di Qatar, yakni Kota Industri Ras Laffan, yang dikenal sebagai kompleks ekspor LNG terbesar di dunia.

Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa sejumlah situs energi di negara-negara Teluk akan dianggap sebagai “target yang sah” menyusul serangan Israel. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa serangan tersebut telah membawa konflik ke “tingkat konfrontasi baru.” Ia menambahkan, “Istilah mata bayar mata telah berlaku, dan tingkat konfrontasi baru telah dimulai.” Markas Besar Khatam al-Anbiya, komando tempur gabungan Angkatan Bersenjata Iran, juga mengancam akan memberikan respons “kuat dan dilakukan pada kesempatan pertama yang tersedia” terhadap agresi apa pun terhadap infrastruktur energi Iran.

Dampak Signifikan pada Pasar Energi Global

Aksi saling serang ini segera memicu lonjakan dunia. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga mencapai kisaran US$97,85 hingga US$98,69 per barel pada 18-19 Maret 2026. Sementara itu, harga minyak mentah Brent mendekati US$107 hingga US$110 per barel, dan harga gas acuan Eropa melesat 6%. Sejak awal konflik, harga minyak telah melonjak sekitar 50%.

Analis Kepala Riset Energi di MST Marquee, Saul Kavonic, menyatakan bahwa “harga minyak, yang sudah jauh di atas $100 per barel, akan bergantung pada seberapa lama gangguan terhadap aliran minyak dari Selat Hormuz berlanjut.” Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan volume besar ekspor gas alam cair. Iran dilaporkan telah secara efektif menutup Selat Hormuz menyusul serangan gabungan AS-Israel.

Reaksi dan Upaya AS Meredam Gejolak

Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa ia telah mengetahui rencana serangan Israel terhadap ladang South Pars dan mendukungnya sebagai sinyal kepada Iran terkait blokade Selat Hormuz. Namun, Trump kemudian menyatakan keinginannya untuk menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran, dengan keyakinan bahwa “pesan telah tersampaikan.” Meskipun demikian, penargetan infrastruktur minyak di Pulau Kharg, pusat ekspor utama Iran, tetap menjadi opsi yang dipertimbangkan.

Untuk meredam lonjakan harga minyak, AS telah mengambil beberapa langkah, termasuk menangguhkan mandat pengiriman barang berusia seabad demi menekan biaya transportasi energi di dalam negeri. Selain itu, AS juga telah memerintahkan pelepasan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis Nasional (SPR). Wakil Presiden AS, JD Vance, dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif minyak untuk membahas krisis pasokan yang terjadi.

Dampak Regional dan Nasional

Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) menyebut serangan Iran terhadap fasilitas gas dan ladang minyaknya sebagai “eskalasi berbahaya dan pelanggaran hukum internasional.” Sementara itu, juru bicara pemerintah Qatar menilai serangan terhadap fasilitas terkait South Pars sebagai langkah “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang mengancam keamanan energi global. Kantor berita Tasnim juga melaporkan bahwa fasilitas di Qatar, Arab Saudi, dan UEA kini masuk dalam daftar risiko serangan udara Iran.

Di Indonesia, konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Setiap kenaikan harga Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 1 dolar AS per barel diperkirakan akan menambah belanja negara sekitar Rp10,3 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi, meskipun juga meningkatkan penerimaan negara sebesar Rp3,5 triliun. Direktur Eksekutif Next Indonesia Center, Christiantoko, mengingatkan, “Melihat eskalasi yang terjadi, kita memang harus waspada, tetapi tidak perlu panik berlebihan karena APBN kita memiliki daya tahan yang cukup solid.”

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa harga BBM bersubsidi seperti Pertalite tidak akan mengalami kenaikan, terlepas dari fluktuasi harga minyak dunia, kecuali ada perubahan kebijakan pemerintah. Namun, nilai tukar Rupiah telah melemah hingga Rp16.985 per dolar AS pada 16 Maret 2026, sejalan dengan pelemahan mata uang negara-negara emerging markets lainnya akibat memburuknya kondisi global. Bank Indonesia terus mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.