Maskapai penerbangan di seluruh Asia kini dihadapkan pada tantangan berat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, yang memicu lonjakan harga bahan bakar jet dan memaksa mereka menaikkan harga tiket serta menyusun rencana darurat. Situasi ini bahkan mencakup potensi penghentian operasional pesawat guna mitigasi dampak yang kian memburuk.
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama krisis ini. Pada Senin, 9 Maret 2026, harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hingga US$114 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$113,25 per barel. Lonjakan ini menandai kali pertama harga minyak menembus US$100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, dan dikhawatirkan akan memicu guncangan harga minyak terburuk sejak era 1970-an. Pengamat bahkan memproyeksikan harga bisa meroket hingga US$200 per barel jika konflik di kawasan tersebut tidak kunjung mereda dalam satu bulan ke depan.
Dampak Langsung pada Maskapai Asia
Maskapai penerbangan di Asia terbukti lebih rentan terhadap gejolak harga minyak dibandingkan dengan pesaing mereka di Eropa atau Amerika Serikat. Hal ini disebabkan kurangnya perlindungan yang memadai dari fluktuasi harga energi. Konsekuensinya, sejumlah maskapai di kawasan ini telah mengambil langkah drastis.
Di India, beberapa maskapai telah menaikkan harga tiket untuk rute jarak jauh sebesar 15% dan tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan lanjutan. Sementara itu, media pemerintah Vietnam memperingatkan bahwa harga tiket pesawat di negara tersebut dapat melonjak hingga 70%, mengingat tingginya ketergantungan Vietnam pada impor bahan bakar jet.
Rute penerbangan dari Asia Tenggara menuju Eropa juga mengalami kenaikan harga yang signifikan, mencapai tiga hingga empat kali lipat dari harga normal yang berkisar antara US$700 hingga US$1.000 untuk kelas ekonomi sekali jalan. Bahkan, penerbangan pada rute-rute tersebut sudah penuh setidaknya untuk dua minggu ke depan. Maskapai nasional Thailand, Thai Airways, melaporkan pesanan penuh untuk penerbangan ke Eropa, dengan tiket kelas ekonomi rute Bangkok-London mencapai 71.190 baht atau sekitar Rp38 juta per orang.
Gangguan Operasional dan Pembatalan Penerbangan
Eskalasi konflik juga menyebabkan kekacauan besar dalam operasional penerbangan global. Data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium menunjukkan bahwa lebih dari 37.000 penerbangan menuju dan dari Timur Tengah telah dibatalkan antara 28 Februari hingga 8 Maret 2026. Sebagian besar wilayah udara di Iran, Irak, Kuwait, Israel, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar nyaris kosong dari lalu lintas pesawat.
Bandara Internasional Dubai, salah satu hub tersibuk di dunia, bahkan sempat ditutup selama empat hari pada awal Maret 2026. Penutupan ini memaksa maskapai untuk mengalihkan rute penerbangan melalui jalur yang lebih aman, yang secara otomatis menambah durasi perjalanan dan konsumsi bahan bakar.
Beban Biaya Operasional Maskapai
Bahan bakar pesawat atau avtur merupakan komponen biaya terbesar dalam struktur operasional maskapai, dengan porsi mencapai 35% hingga 40% dari total biaya. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga menyoroti bahwa komponen avtur menyumbang sekitar 27,6% dari total biaya penerbangan dan sangat volatil terhadap kondisi global. Lonjakan harga minyak mentah global secara langsung memicu kenaikan harga avtur, yang pada akhirnya menekan kinerja maskapai dan mendorong mereka untuk melakukan penyesuaian tarif melalui kenaikan harga tiket atau fuel surcharge.
Menanggapi kondisi ini, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mendesak pemerintah untuk merevisi tarif batas atas (TBA) yang saat ini masih mengacu pada aturan lama. INACA juga mengusulkan pengembalian fuel surcharge ke besaran semula 15% guna menjaga keselamatan dan keberlanjutan industri penerbangan nasional.
Langkah Pemerintah Indonesia
Di tengah gejolak global, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan pasokan avtur di Indonesia masih relatif aman dalam jangka pendek, termasuk untuk menghadapi periode angkutan Lebaran tahun ini. Sebagai bentuk dukungan, PT Pertamina (Persero) juga memberikan diskon harga avtur sebesar 10% yang berlaku mulai 14 hingga 29 Maret 2026 di 37 bandara yang dikelola Angkasa Pura. Langkah ini diharapkan dapat mendukung stimulus ekonomi selama periode Ramadan dan Idulfitri.
Asia Menjadi Korban Terbesar
Krisis ini secara khusus menghantam Asia lebih keras dibandingkan wilayah lain karena struktur ekonominya yang unik dan ketergantungan tinggi pada impor bahan bakar fosil. Penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, telah mengganggu pasokan global secara signifikan. Volume kapal tanker minyak yang melewati selat tersebut dilaporkan turun hingga 90%. Bahkan, biaya pengiriman udara dari Asia ke Eropa telah melonjak sebesar 45%.
Pemerintah Tiongkok, misalnya, telah memerintahkan kilang minyak terbesar di negaranya untuk menangguhkan ekspor solar dan bensin guna memprioritaskan kebutuhan domestik di tengah krisis yang mendalam.
Proyeksi yang Berubah Drastis
Sebelum eskalasi konflik terbaru di Maret 2026, beberapa lembaga global sempat memproyeksikan penurunan harga minyak. Goldman Sachs, misalnya, pada November 2025 memperkirakan harga minyak mentah Brent akan rata-rata US$56 per barel dan WTI US$52 pada tahun 2026, seiring lonjakan produksi dan berakhirnya pemangkasan OPEC+. Badan Energi Internasional (IEA) dan World Bank juga sempat memproyeksikan surplus pasar minyak global dan potensi penurunan harga pada tahun 2026. International Air Transport Association (IATA) bahkan memproyeksikan biaya bahan bakar jet akan turun pada tahun 2026.
Namun, perkembangan konflik di Timur Tengah yang memanas secara drastis mengubah proyeksi tersebut, mendorong harga minyak dan avtur melonjak tajam, serta memberikan tekanan signifikan pada industri penerbangan global, khususnya di Asia.