Konflik Timur Tengah Memanas, Ekonomi China Terancam Kerugian Besar

konflik timur tengah, ekonomi china, harga minyak, selat hormuz, geopolitik

Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas oleh Iran. Eskalasi ini segera memicu reaksi pasar global, dengan investor berbondong-bondong mencari aset aman seperti dolar AS dan emas, sementara harga saham mengalami penurunan.

Dampak paling signifikan terasa pada pasar energi. mentah Brent melonjak 13% hingga menembus US$82 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$72 per barel. Lonjakan harga ini dipicu oleh kekhawatiran serius akan gangguan pasokan, terutama setelah laporan mengenai penutupan atau gangguan pelayaran di oleh Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur maritim krusial yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global, atau sekitar 20,5 juta barel per hari, serta sebagian besar gas alam cair (LNG) yang sebagian besar ditujukan ke pasar Asia. Laporan awal menyebutkan tiga kapal tanker mengalami kerusakan dan satu pelaut tewas, sementara sekitar 200 kapal terpaksa berlabuh di dekat Selat untuk menghindari risiko. Perusahaan asuransi kapal bahkan membatalkan pertanggungan risiko perang.

Bagi China, sebagai importir minyak terbesar di dunia, situasi ini berpotensi menimbulkan kerugian besar. Kenaikan harga minyak yang berkepanjangan akan memukul keras perekonomian negara-negara pengimpor besar seperti China, Eropa, dan India. Selain itu, gangguan pada Selat Hormuz akan memicu tekanan biaya logistik global, yang secara langsung berdampak pada rantai pasok dan biaya impor energi China.

Kepentingan di Timur Tengah sangat besar, terutama dalam hal akses terhadap cadangan energi. Volume perdagangan China dengan negara-negara Liga Arab mencapai rekor 1,72 triliun yuan pada tujuh bulan pertama 2025, dan dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) melonjak hingga US$288 miliar pada tahun 2024. China juga memiliki komitmen investasi jangka panjang di Iran senilai US$400 miliar selama 25 tahun. Konflik ini dapat mengganggu arus modal dua arah dan pembicaraan investasi antara Timur Tengah dan China dalam jangka pendek, bahkan beberapa investor China menunda diskusi pembelian aset infrastruktur dan energi di kawasan tersebut.

Di tengah gejolak ini, China menyerukan penghentian segera operasi militer dan menekankan pentingnya dialog serta negosiasi untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Beijing juga menegaskan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran harus dihormati.

Sebelum eskalasi konflik ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk tahun 2026 sudah diwarnai kehati-hatian. Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan China di angka 4,5%, dengan risiko utama berasal dari permintaan domestik yang lemah, perlambatan ekonomi global, dan penurunan sektor properti yang lebih dalam dari perkiraan. Beberapa penasihat pemerintah dan analis juga memperkirakan target pertumbuhan China akan berada di kisaran 4,5%-5,0% untuk 2026.

Sementara itu, inflasi tahunan Indeks Harga Konsumen (IHK) China melambat tajam menjadi 0,2% pada Januari 2026, dari 0,8% pada bulan sebelumnya, menjadi yang terendah sejak Oktober 2025. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh penurunan harga pangan seperti daging babi, telur, dan alkohol. Inflasi non-pangan juga melambat menjadi 0,4%. Dengan potensi deflasi yang bisa bertahan hingga 2027, lonjakan harga komoditas akibat konflik Timur Tengah dapat menambah kompleksitas pada upaya China untuk menstabilkan perekonomiannya.