Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas secara drastis pada awal Maret 2026, menyusul serangkaian serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Eskalasi ini segera memicu lonjakan tajam pada harga minyak mentah dan emas di pasar global, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi dunia.
Harga Minyak Dunia Terkerek Kekhawatiran Pasokan
Pasar energi global bereaksi cepat terhadap perkembangan di Timur Tengah, dengan harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Senin, 2 Maret 2026. Minyak mentah Brent sempat menyentuh US$82,37 per barel, sebelum bertahan di kisaran US$79,34 per barel, menandai kenaikan sekitar 8,8 persen dalam satu hari perdagangan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat sekitar 8 persen, mencapai US$72,38 per barel.
Pemicu utama lonjakan ini adalah kekhawatiran akan gangguan pasokan dari Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar 20 hingga 25 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global. Laporan menyebutkan bahwa Iran telah membatasi akses atau bahkan menutup jalur pelayaran di selat tersebut sebagai respons atas serangan. Beberapa perusahaan minyak besar dan perdagangan energi dilaporkan telah menangguhkan pengiriman melalui Selat Hormuz, menambah tekanan pada pasar. Direktur Energi dan Pengilangan di ICIS, Ajay Parmar, menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz adalah faktor kunci yang menentukan arah harga minyak.
Bloomberg Economics memperkirakan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat mendorong harga minyak mentah hingga US$80 per barel. Dalam skenario terburuk, jika Selat Hormuz ditutup sepenuhnya, harga minyak diproyeksikan dapat melonjak hingga US$108 per barel. Analis Rystad Energy bahkan memperkirakan kenaikan harga sebesar US$20, mencapai sekitar US$92 per barel, jika gangguan pasokan terus berlanjut. Meskipun Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya (OPEC+) berencana meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April 2026, langkah ini dinilai terlalu kecil untuk meredakan lonjakan harga yang terjadi.
Emas Kian Berkilau sebagai Aset Lindung Nilai
Sejalan dengan kenaikan harga minyak, emas juga menunjukkan penguatan signifikan. Pada awal perdagangan Senin, 2 Maret 2026, harga emas di pasar spot melonjak 1,41 persen atau 74,55 poin, mencapai US$5.353,48 per troy ounce. Harga emas dunia kini mendekati rekor terbaru, dengan kontrak emas berjangka di Chicago Mercantile Exchange (CME) melonjak hingga US$5.296,4 per ons. Di pasar domestik, harga emas Antam juga melonjak Rp50.000 menjadi Rp3.135.000 per gram pada hari yang sama.
Emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Analis memproyeksikan bahwa harga emas dapat mencapai US$5.500 per troy ounce, bahkan berpotensi menembus US$6.000 per ons jika eskalasi konflik berlanjut. Permintaan yang kuat dari bank sentral global, bersama dengan pergeseran investor dari obligasi pemerintah, turut mendukung tren kenaikan harga emas ini.
Dampak pada Pasar Saham dan Ekonomi Indonesia
Eskalasi konflik di Timur Tengah juga membawa dampak signifikan pada pasar saham global dan domestik. Saham-saham di sektor minyak dan gas (migas) serta komoditas diprediksi akan menguat di tengah sentimen ini. Emiten seperti MEDC, ELSA, AKRA, PGAS, dan RAJA di sektor migas, serta ANTM, MDKA, BRMS, dan ARCI di sektor emas dan logam mulia, disebut-sebut prospektif sebagai pilihan investasi.
Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia berisiko tertekan akibat sentimen negatif global ini, meskipun saham berbasis komoditas dapat berfungsi sebagai lindung nilai. Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi kekhawatiran, dengan potensi depresiasi menuju Rp17.000 per dolar AS jika ketegangan terus meningkat, yang dapat memicu inflasi barang impor. Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Rizky Yudaruddin, menekankan pentingnya kesiagaan dan upaya mewujudkan swasembada energi bagi Indonesia untuk menghadapi lonjakan harga minyak mentah dunia dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Situasi geopolitik yang bergejolak ini telah menjadi “new normal” di tahun 2026, mendorong investor untuk memperkuat diversifikasi portofolio ke aset-aset defensif seperti emas. Selain itu, konflik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran ini juga telah menyebabkan penutupan atau pembatasan operasional bandara-bandara utama di Timur Tengah, termasuk Dubai, serta mengosongkan ruang udara di beberapa negara kawasan.