Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak dan Saham Migas RI Bergairah

konflik timur tengah, harga minyak, saham migas, selat hormuz, apbn 2026

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, memicu lonjakan signifikan pada mentah dunia dan memberikan sentimen positif bagi saham-saham sektor minyak dan gas (migas) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama melalui .

Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Gangguan Pasokan

Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal pekan ini, mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Minyak mentah Brent sempat menembus angka psikologis US$80 per barel, bahkan mencapai puncaknya di US$82,37 per barel, dengan kenaikan sekitar 8 hingga 13 persen dalam satu hari perdagangan. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga melonjak sekitar 8 persen ke level US$72,38 per barel, setelah sempat menyentuh US$75,33 per barel.

Lonjakan harga ini dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, diikuti oleh serangan balasan rudal dari Iran ke Israel dan beberapa negara lain. Laporan menyebutkan, setidaknya tiga kapal tanker mengalami kerusakan dan satu awak kapal tewas akibat serangan balasan tersebut, menyebabkan banyak perusahaan pelayaran dan minyak besar menghentikan sementara pengiriman melalui Selat Hormuz. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menyalurkan lebih dari 20 persen perdagangan minyak global.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan mengumumkan pembatasan akses ke jalur tersebut sebagai respons terhadap “Operation Epic Fury”. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, memperingatkan bahwa gangguan pasokan dapat meluas jika serangan balasan Iran menyasar negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS, seperti Kuwait, Doha (Qatar), dan Dubai (Uni Emirat Arab).

Proyeksi Harga Minyak dan Premi Risiko

Beberapa bank investasi global telah merevisi proyeksi harga minyak. Citi memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$80–US$90 per barel dalam skenario dasar selama setidaknya sepekan ke depan. Goldman Sachs menghitung adanya premi risiko sekitar US$18 per barel dalam harga minyak saat ini. Analis dari Wood Mackenzie dan Ajay Parmar dari ICIS bahkan menyebut harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel jika arus tanker melalui Selat Hormuz tidak segera pulih atau ketegangan berlanjut.

Jorge Leon, seorang ahli dari Rystad Energy, memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz secara penuh dapat mengakibatkan penurunan bersih pasokan minyak mentah global sebesar 8-10 juta barel per hari. Meskipun Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC+) telah sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April 2026, para analis menilai peningkatan ini terlalu kecil untuk meredam lonjakan harga yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik. Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di Phillip Nova, menekankan bahwa kenaikan harga saat ini lebih didorong oleh sentimen investor dan prediksi risiko gangguan, bukan karena kekurangan pasokan aktual di pasar global.

Saham Migas Indonesia Melesat, APBN Terancam

Kenaikan harga minyak dunia ini membawa angin segar bagi saham-saham perusahaan migas di Indonesia. Pada perdagangan 2 Maret 2026, sejumlah emiten mencatat lonjakan signifikan. PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) melesat 15,38 persen ke Rp240 per saham. Disusul oleh PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang naik 14,77 persen ke Rp2.020 per saham, dan PT Elnusa Tbk (ELSA) menguat 9,41 persen ke Rp930 per saham.

Emiten lain yang juga menikmati kenaikan adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan penguatan 7,54 persen ke Rp1.855 per saham (atau 8,12 persen ke Rp1.865 per saham), serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang naik 6 persen ke Rp4.770 per saham (atau 7,11 persen ke Rp4.820 per saham). PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) juga melesat 3,08 persen ke Rp1.335 per saham. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebut sektor energi dan logam mulia cenderung menjadi sektor defensif utama di tengah kondisi geopolitik yang tidak menentu.

Namun, bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, lonjakan harga ini berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam ditetapkan sebesar US$70 per barel. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, memproyeksikan setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi APBN dapat menambah belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. Jika harga minyak mencapai US$100 hingga US$120 per barel, belanja negara berpotensi meningkat hingga Rp515 triliun pada 2026. Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS, Mulyanto, memperkirakan setiap kenaikan US$10 per barel akan menambah beban fiskal Rp35-40 triliun.

PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan energi nasional tetap aman di tengah gejolak ini dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG, serta optimasi kilang domestik. Sementara itu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari (MBOPD) dan gas 5.510 MMSCFD untuk tahun 2026.