Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Melonjak dan Saham Migas Melesat

konflik timur tengah, harga minyak dunia, saham migas, selat hormuz, iran

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap pada Sabtu, 28 Februari 2026. Eskalasi ini sontak mengguncang pasar energi global, mendorong harga minyak mentah melonjak signifikan dan memicu reli pada saham-saham sektor minyak dan gas (migas) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Fenomena ini terjadi di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru ambruk lebih dari 2%.

Gejolak di Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan

Serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan lalu dibalas Teheran dengan melancarkan rentetan rudal ke Israel serta beberapa negara Timur Tengah yang menjadi basis militer AS, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Situasi kian genting setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara efektif memblokade jalur navigasi di . Selat ini merupakan arteri vital perdagangan energi dunia, dilalui sekitar seperlima hingga sepertiga pasokan minyak global.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa kondisi ini dapat menjadi babak baru konflik di Timur Tengah pada Maret 2026. Ia menambahkan, dampaknya kemungkinan besar akan mengerek harga emas dan logam mulia, menekan nilai tukar rupiah, serta memicu lonjakan harga minyak mentah yang akan berimbas pada turunannya. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, juga menegaskan bahwa harga minyak pasti akan naik. Ia khawatir pasokan dari Timur Tengah yang menjadi sumber utama impor Indonesia akan terhenti, sehingga ekonomi nasional akan terdampak.

Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis

Pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, harga minyak mentah dunia langsung bereaksi dengan kenaikan tajam. Minyak mentah jenis Brent sempat melesat 7-13%, mencapai kisaran US$76,29 hingga US$82,37 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 4-7% ke level US$69,77 hingga US$71,9 per barel. Harga gas dunia juga terpantau mengalami kenaikan.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan bahwa jika konflik berlanjut dan pasokan minyak di Selat Hormuz terganggu, harga minyak bisa menembus US$100 per barel, bahkan mencapai US$120 per barel. Analis dari Citi memproyeksikan harga Brent akan bergerak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel sepanjang pekan ini. Ajay Parmar, Direktur Energi dan Penyulingan ICIS, bahkan memperkirakan harga minyak akan dibuka mendekati US$100 per barel dan mungkin melebihi level tersebut jika penutupan Selat Hormuz berkepanjangan.

Saham Migas Melesat di Tengah IHSG Tertekan

Di tengah gejolak global, pasar saham domestik menunjukkan respons yang kontras. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka terkoreksi dalam dan ambruk lebih dari 2% pada pembukaan perdagangan Senin pagi, 2 Maret 2026, dengan 556 saham turun. Namun, saham-saham sektor migas justru kompak menguat signifikan.

Beberapa emiten migas yang mencatat lonjakan harga saham antara lain:

  • PT Elnusa Tbk (ELSA): Melonjak 13,53% ke level Rp965.
  • PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Menguat 9,66% ke posisi Rp1.930.
  • PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): Naik 8,99% ke level Rp1.880.
  • PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX): Melesat 12,50% ke level Rp234-Rp240.
  • PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA): Terapresiasi 5,43% ke level Rp680.
  • PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS): Naik 2,51% ke posisi Rp2.450.
  • PT Rukun Raharja Tbk (RAJA): Mengalami kenaikan 6% menjadi Rp4.770 per saham.

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyatakan bahwa kuartal I-2026 seharusnya positif bagi emiten migas Indonesia, mengingat kontrak penjualan minyak yang relatif pendek (di bawah 1 tahun) memungkinkan mereka merespons cepat kenaikan harga.

Dampak Ekonomi Lebih Luas bagi Indonesia

Lonjakan ini berpotensi membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan membengkakkan beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pemerintah. Selain itu, nilai tukar rupiah juga berpotensi terdepresiasi, bahkan diperkirakan dapat menuju Rp17.000 per dolar AS apabila ketegangan terus meningkat.

Pasar minyak global saat ini memperhitungkan “risiko premium geopolitik”, di mana ekspektasi gangguan pasokan sudah cukup untuk mendorong harga naik, bahkan tanpa gangguan fisik yang masif. Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya (OPEC+) dilaporkan sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 206 ribu barel per hari dalam pertemuan pada Minggu, 1 Maret 2026. Keputusan ini diharapkan dapat mengimbangi beberapa gangguan pasokan akibat konflik yang memanas. Namun, risiko geopolitik lain seperti konflik Rusia-Ukraina juga masih menjadi faktor yang mempengaruhi harga minyak mentah global.