Konflik Timur Tengah Memanas: Kapal Tanker Diserang, Selat Hormuz Terancam Lumpuh

Situasi di memanas drastis pada awal Maret 2026, menyusul serangkaian serangan terhadap kapal tanker dan ancaman penutupan jalur pelayaran vital, . Eskalasi ini terjadi setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap , yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Dampak langsungnya terasa pada pasar energi global, dengan mentah Brent melonjak signifikan dan memicu kekhawatiran akan krisis ekonomi yang lebih luas.

Serangan Terhadap Kapal Tanker dan Jalur Pelayaran

Pada 1 Maret 2026, sebuah kapal tanker minyak berbendera Palau, Skylight, diserang saat melintasi Selat Hormuz, mengakibatkan empat awak kapal yang berkewarganegaraan India dan Iran terluka. Insiden ini dilaporkan oleh Oman, menandai serangan pertama di negara mediator tersebut sejak Iran melancarkan kampanye pembalasan. Di hari yang sama, sebuah kapal tanker minyak berbendera Yunani, Sounion, juga mengalami ledakan di deknya saat berada di Laut Merah. Laporan lain menyebutkan tiga kapal diserang di Selat Hormuz, dengan satu kapal di lepas pantai Oman terkena proyektil tak dikenal yang memicu kebakaran, serta satu kapal tanker lain yang juga terbakar dan satu kapal ketiga yang nyaris terkena ledakan.

Ketegangan semakin memuncak setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk pelayaran internasional pada 28 Februari 2026, sebagai respons atas serangan AS dan Israel terhadap wilayah Iran. Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, juga menyatakan akan melanjutkan serangan rudal dan drone terhadap jalur pelayaran serta Israel. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, bahkan mengumumkan “penutupan total Laut Merah untuk kapal-kapal” dan mengancam akan menargetkan kapal-kapal AS dan Israel. Meskipun misi angkatan laut Uni Eropa dan Angkatan Laut Inggris menyatakan perintah Iran tersebut tidak mengikat secara hukum, ketidakpastian telah menyebabkan ratusan kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) terdampar di luar Selat Hormuz.

Eskalasi Konflik dan Dampak Geopolitik

Pemicu utama eskalasi ini adalah serangan militer gabungan AS dan Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal ke berbagai titik strategis di kawasan Teluk, termasuk Dubai di Uni Emirat Arab, Doha di Qatar, Manama di Bahrain, Riyadh di Arab Saudi, dan Kuwait. Yaman secara resmi menyatakan bergabung dengan Iran dalam konfrontasi melawan Israel dan AS, memperingatkan kapal-kapal kedua negara agar menjauh dari perairan strategis Laut Merah. IRGC juga mengklaim telah menembakkan empat rudal balistik ke kapal induk AS USS Abraham Lincoln pada 1 Maret 2026, meskipun klaim ini dibantah tegas oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) dan Pentagon.

Ancaman Terhadap Pasokan Energi Global

Selat Hormuz merupakan jalur air yang sangat vital, mengalirkan sekitar 20 hingga 30 persen produksi minyak global, atau sekitar 20 juta barel per hari, serta pasokan LNG. Gangguan di selat ini memiliki konsekuensi besar bagi pasokan energi dunia. Saat ini, lebih dari 150 kapal tanker minyak dan LNG dilaporkan terdampar di perairan terbuka Teluk, di luar Selat Hormuz, setelah perusahaan pelayaran, minyak, dan gas menangguhkan pengiriman. Selat Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, juga menjadi titik cekik strategis yang terancam.

Lonjakan Harga Minyak dan Dampak Ekonomi

Akibat perkembangan militer terbaru, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 10 persen menjadi sekitar $80 per barel pada 1 Maret 2026. Para analis memperkirakan harga dapat dengan cepat mendekati bahkan melampaui $100 per barel jika ketegangan berlanjut atau jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya (OPEC+) telah menyepakati peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April 2026, namun jumlah ini dinilai terlalu kecil untuk meredakan pasar.

Ekonom memperingatkan potensi stagflasi global, yaitu kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang meningkat. Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada pembengkakan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Rupiah berpotensi tertekan lebih dalam, bahkan bisa menembus Rp 17.000 per dolar AS, yang akan meningkatkan inflasi impor karena ketergantungan pada bahan baku dari luar negeri. PT Pertamina (Persero) sendiri telah menaikkan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mulai 1 Maret 2026.