Konflik Timur Tengah Memanas, Operator Pelayaran Global Kembali Hindari Rute Krusial

pelayaran global, laut merah, selat hormuz, konflik timur tengah, rantai pasok

Perusahaan-perusahaan pengangkut kontainer terbesar di dunia secara masif kembali mengalihkan rute kapal mereka untuk menghindari kawasan Timur Tengah, termasuk Teluk Persia, , dan . Langkah ini diambil menyusul peningkatan signifikan konflik militer antara aliansi Amerika Serikat-Israel dan Iran, serta berlanjutnya serangan kelompok Houthi di Laut Merah, yang berpotensi mengganggu arus perdagangan barang secara global.

Sebelumnya, pada Januari 2026, raksasa pelayaran Maersk sempat mengumumkan rencana untuk secara bertahap kembali menggunakan jalur Laut Merah dan Terusan Suez, menyusul apa yang mereka sebut sebagai “stabilisasi kondisi” di kawasan tersebut. Namun, harapan tersebut pupus seiring eskalasi terbaru. Pada awal Maret 2026, Maersk kembali menangguhkan seluruh pelayaran Trans-Suez melalui Selat Bab el-Mandeb dan mengalihkan kapal-kapal mereka memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Perusahaan Pelayaran Ambil Langkah Darurat

Sejumlah operator pelayaran besar telah mengambil tindakan drastis. MSC Mediterranean Shipping Co, perusahaan pengangkut kontainer terbesar, telah menghentikan pemesanan kargo untuk wilayah Timur Tengah. Sementara itu, A.P. Moller-Maersk A/S dan Hapag-Lloyd AG menangguhkan seluruh penyeberangan melalui Selat Hormuz. Hapag-Lloyd bahkan memberlakukan “biaya tambahan risiko perang” sebesar US$1.500 per kontainer 20 kaki untuk pengiriman di wilayah tersebut, berlaku mulai 1 Maret 2026.

Kelompok Houthi di Yaman juga telah mengumumkan “penutupan total Laut Merah untuk kapal-kapal” dan mengancam akan menargetkan kapal-kapal yang terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai respons atas agresi terhadap Iran. Ancaman ini mencakup Selat Bab el-Mandeb, jalur kritis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi pintu masuk ke Terusan Suez.

Selain itu, laporan juga menyebutkan bahwa Iran telah menutup navigasi di Selat Hormuz, jalur air sempit yang menjadi pintu keluar masuk bagi sekitar 20 juta barel minyak mentah setiap hari, atau seperlima dari total konsumsi minyak dunia. Kementerian Perkapalan Yunani bahkan secara resmi menyarankan seluruh kapal mereka untuk menghindari Teluk Persia dan Teluk Oman. Cosco Shipping Holdings Co, operator pelayaran terbesar China, menginstruksikan kapal yang sudah berada di Teluk Persia untuk mencari perairan aman atau berlabuh.

Dampak pada Rantai Pasok dan Ekonomi Global

Pengalihan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan akan menambah waktu tempuh hingga 10-14 hari. Konsekuensinya, biaya bahan bakar dan premi asuransi risiko perang melonjak secara signifikan. Lars Jensen, CEO Vespucci Maritime, memperingatkan bahwa “pemilik kargo sebaiknya bersiap menghadapi efek domino dengan kenaikan tarif spot pada perdagangan laut dalam utama lainnya.”

Krisis ini tidak hanya memengaruhi pelayaran. Sektor penerbangan juga terpukul. Sejumlah negara seperti Irak, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Suriah telah menutup ruang udara mereka. Maskapai-maskapai besar seperti Etihad Airways, Qatar Airways, Emirates, Singapore Airlines, dan British Airways membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan ke Timur Tengah. Bahkan, Bandara Internasional Dubai sempat mengalami kerusakan dan penangguhan operasional.

Ancaman Inflasi dan Biaya Logistik di Indonesia

Bagi Indonesia, eskalasi konflik ini membawa ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memperkirakan harga minyak Brent dapat menyentuh US$120 per barel, jauh di atas level US$65-73 per barel pada awal Februari. Kenaikan harga minyak global ini akan berdampak langsung pada harga bahan bakar domestik, khususnya solar.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menjelaskan bahwa “Dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35%-40% dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10% dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5%-4%.” Jika harga solar meningkat 20%, ongkos truk berpotensi naik 7%-8%. Kenaikan biaya logistik ini berisiko memicu inflasi, terutama pada barang-barang impor vital seperti minyak mentah, gandum, bahan bangunan, dan komoditas konsumsi.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menegaskan bahwa “Dampak eskalasi konflik AS, Israel, Iran yang akan terasa paling langsung dan immediate untuk Indonesia adalah gangguan pada rute perdagangan, khususnya yang mengarah ke Timur Tengah dan sekitarnya sarana saat ini Selat Hormuz ditutup, dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat.” Gangguan ini berpotensi menghambat kelancaran distribusi barang impor dan ekspor Indonesia, serta menyebabkan keterlambatan di pelabuhan utama seperti Tanjung Priok dan Belawan. Pemerintah Indonesia diimbau untuk memantau situasi secara intensif dan mempertimbangkan stimulus produktivitas untuk mendorong ekspor dan investasi asing langsung.