Konflik Timur Tengah Memanas, Rupiah Tertekan dan Harga Minyak Melonjak

konflik timur tengah, nilai tukar rupiah, harga minyak dunia, bank indonesia, selat hormuz

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas pada awal Maret 2026, menyusul serangan Israel ke Teheran dan respons Iran pascakematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Eskalasi ini memicu sentimen ‘risk-off’ di pasar keuangan global, memberikan tekanan signifikan terhadap dan mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau rentan di kisaran Rp16.800 per dolar AS. Pada Senin (2/3/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sempat dibuka menguat tipis 0,14%, namun penguatan tersebut menyusut hingga hanya tersisa 0,03% dan dibanderol Rp16.798 per dolar AS. Sementara itu, kurs jual beli dolar AS di BCA pada tanggal yang sama berada di Rp16.850 dan Rp16.740.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi terdepresiasi menuju Rp17.000 per dolar AS apabila ketegangan di Timur Tengah terus meningkat. Proyeksi ini sejalan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang sebelumnya memprediksi rupiah akan bergerak di rentang Rp16.678 hingga Rp17.098 per dolar AS sepanjang tahun 2026.

Dampak Konflik pada Harga Minyak dan Ekonomi Indonesia

Kenaikan ketegangan di Timur Tengah secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah global. Pada Senin (2/3/2026), harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 8% menjadi US$78,34 per barel, setelah sempat menyentuh US$82,37 per barel. Harga West Texas Intermediate (WTI) juga menguat lebih dari 7% ke level US$72 per barel, setelah mencapai US$75,33.

Analis memperingatkan bahwa penutupan atau gangguan pada , jalur vital yang dilewati sekitar 20-25% pasokan minyak dan gas alam cair global, dapat mendorong harga minyak menembus batas psikologis US$100 per barel, bahkan berpotensi mendekati US$120 per barel. Gangguan ini tidak hanya memicu kekhawatiran pasokan, tetapi juga menghidupkan kembali risiko inflasi global yang sebelumnya mulai mereda.

Bagi Indonesia, dampak konflik ini dinilai lebih besar melalui kanal energi dan keuangan dibandingkan perdagangan langsung. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa perdagangan langsung Indonesia-Iran hanya sekitar US$200 juta per tahun, sehingga tidak signifikan. Namun, sebagai negara net importir energi, Indonesia akan langsung merasakan dampak kenaikan harga minyak melalui peningkatan biaya impor energi dan tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat pembengkakan subsidi dan kompensasi energi.

Respons Bank Indonesia dan Prospek Pasar

Dalam menghadapi ketidakpastian global ini, (BI) diharapkan untuk melakukan intervensi dan pengawasan moneter secara ketat guna mengantisipasi volatilitas yang lebih besar. BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi dalam sasaran 2,5% plus minus 1% untuk tahun 2026 dan 2027.

Di tengah sentimen ‘risk-off’, investor global cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya menunjukkan penguatan 0,31% pada pagi hari ini, sementara sebagian besar mata uang Asia melemah.

Meskipun demikian, Bank Indonesia juga melihat adanya ruang untuk penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut pada tahun 2026, dengan mempertimbangkan prospek inflasi yang tetap rendah dan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pemanfaatan ruang tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan data dan kondisi ekonomi ke depan.