PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah menjadi sorotan di pasar modal. Di satu sisi, para analis kompak menyematkan rekomendasi beli, meyakini prospek cerah emiten perbankan ini. Namun, di sisi lain, saham BBCA justru dihantui oleh aksi jual bersih (net sell) yang masif dari investor asing, menciptakan kontradiksi yang menarik perhatian.
Kinerja Solid 2025 Jadi Fondasi Optimisme Analis
Optimisme analis terhadap BBCA bukan tanpa alasan. Bank swasta terbesar di Indonesia ini berhasil membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2025. Laba bersih konsolidasi BBCA tercatat sebesar Rp 57,5 triliun, meningkat 4,9 persen secara tahunan (YoY) dibandingkan periode sebelumnya. Capaian ini menjadikan BCA sebagai jawara laba di antara bank-bank jumbo Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4.
Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) BCA tumbuh 4,1 persen YoY mencapai Rp 85,4 triliun, sementara pendapatan selain bunga melonjak 16 persen YoY menjadi Rp 25,6 triliun. Total pendapatan operasional perseroan naik 5,4 persen YoY menjadi Rp 111,1 triliun, didukung oleh rasio biaya terhadap pendapatan (Cost to Income Ratio/CIR) yang membaik ke level 30,7 persen.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BCA tumbuh 7,7 persen YoY mencapai Rp 993 triliun per Desember 2025. Dana pihak ketiga (DPK) khususnya giro dan tabungan (CASA) juga menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 13,1 persen YoY, mencapai Rp 1.045 triliun. Kualitas aset BCA pun tetap terjaga dengan rasio Loan at Risk (LAR) membaik ke 4,8 persen dan rasio Non-Performing Loan (NPL) terkendali di level 1,7 persen.
Rekomendasi Beli dan Target Harga Menarik untuk 2026
Melihat fundamental yang kokoh ini, sejumlah sekuritas merekomendasikan beli untuk saham BBCA. BRI Danareksa Sekuritas dan CGS International bahkan menobatkan BBCA sebagai ‘top pick‘ dengan proyeksi target harga Rp 10.800. Mereka menilai BBCA memiliki profil pendapatan yang lebih aman dan kualitas aset yang lebih solid dibandingkan dengan bank-bank lain. Oso Sekuritas juga merekomendasikan ‘buy‘ dengan target harga Rp 9.000 dalam 12 bulan ke depan.
Prospek kinerja BBCA untuk tahun 2026 diproyeksikan positif, dengan konsensus analis memperkirakan pertumbuhan laba bersih sebesar 7 persen YoY. Pertumbuhan kredit ditargetkan mencapai 8-10 persen YoY. Manajemen BCA optimistis volume pertumbuhan kredit yang kuat dapat mengkompensasi potensi penurunan Net Interest Margin (NIM) di level 5,4-5,6 persen, seiring dengan efek penurunan suku bunga BI. “Kami memilih BBCA sebagai top pick karena didukung oleh profil pendapatan yang lebih aman dan kualitas aset yang lebih solid dibandingkan dengan peers,” ujar analis BRI Danareksa dan CGS International.
Net Sell Asing Terus Menghantui
Namun, di tengah optimisme analis, pergerakan saham BBCA di pasar justru menunjukkan tren yang berbeda akibat tekanan jual dari investor asing. Sepanjang periode 1 Januari hingga 20 Februari 2026, BBCA mencatatkan net foreign sell yang sangat besar, mencapai Rp 16,26 triliun. Angka ini menjadikan BBCA sebagai saham dengan aksi jual bersih asing terbesar di pasar reguler pada periode tersebut.
Tekanan jual ini berlanjut. Pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, BBCA kembali mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 149,7 miliar, yang menyebabkan harga sahamnya terkoreksi 0,34 persen ke level Rp 7.300 per saham. Bahkan, pada Jumat, 27 Februari 2026, BBCA ramai dilepas asing hingga Rp 580,3 miliar. Akibatnya, secara year-to-date hingga 20 Februari 2026, harga saham BBCA turun 9,97 persen ke level Rp 7.225 per saham. Kondisi ini membuat kinerja saham BBCA tertinggal dibandingkan bank-bank Himbara lainnya.
Meskipun demikian, ada sentimen positif dari internal perusahaan. Komisaris BCA, Jahja Setia Atmadja, tercatat menambah kepemilikan sahamnya sebanyak 67.000 lembar pada 2 Februari 2026 dengan harga Rp 7.450 per saham, sebagai investasi jangka panjang. Aksi ini sempat memberikan dorongan positif di tengah tekanan pasar. Valuasi BBCA per 20 Februari 2026 yang diperdagangkan pada sekitar 2,9x 1-Year Forward Price-to-Book Value (PBV), di bawah rata-rata historis 10 tahunnya sebesar 3,8x PBV, juga dinilai menarik oleh beberapa pihak.