Bintang Real Madrid, Kylian Mbappe, kembali menjadi sorotan utama setelah melakukan tendangan penalti ala Panenka yang berujung gol krusial. Namun, bukan hanya eksekusi berani tersebut yang menarik perhatian, melainkan dedikasinya kepada rekan setimnya, Brahim Diaz, yang memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola dan penggemar.
Panenka Penentu Kemenangan di La Liga
Momen kontroversial itu terjadi pada 24 Januari 2026, dalam pertandingan La Liga antara Real Madrid melawan Villarreal di Estadio de la Cerámica. Mbappe berhasil mencetak dua gol dalam laga tersebut, termasuk penalti Panenka di masa tambahan waktu yang memastikan kemenangan 2-0 untuk Los Blancos. Kemenangan ini sempat membawa Real Madrid memuncaki klasemen sementara La Liga, unggul dua poin dari Barcelona yang memiliki satu pertandingan di tangan. Hingga Minggu, 22 Februari 2026, Real Madrid masih kokoh di puncak klasemen Liga Spanyol musim 2025/2026 dengan 60 poin dari 24 pertandingan, setelah sebelumnya mengalahkan Real Sociedad 4-1 pada 16 Februari 2026.
Dukungan untuk Diaz Pasca-AFCON 2025
Setelah sukses mengeksekusi penalti, Mbappe langsung menghampiri Brahim Diaz dan memeluknya, seraya berteriak, “Untukmu, untukmu.” Gestur ini kemudian dikonfirmasi oleh Mbappe sendiri dalam wawancara dengan Marca dan DAZN. “Itu adalah dukungan untuknya,” ujar Mbappe. Ia juga menegaskan, “Ya, penalti itu untuk Brahim. Saya mendedikasikannya untuknya.”
Dukungan ini muncul setelah Brahim Diaz mengalami momen pahit di final Piala Afrika (AFCON) 2025. Gelandang asal Maroko itu gagal mengeksekusi penalti Panenka yang krusial di menit-menit akhir pertandingan melawan Senegal, yang berpotensi membawa Maroko meraih gelar juara. Kegagalan tersebut berujung pada kekalahan Maroko di babak tambahan waktu dan memicu kritik keras terhadap Diaz.
Reaksi Beragam: Pujian dan Kecaman
Aksi Mbappe ini menuai beragam reaksi. Banyak pihak melihatnya sebagai bentuk kepemimpinan dan dukungan moral yang kuat dari sang superstar kepada rekan setimnya yang sedang terpuruk. Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, yang menggantikan Xabi Alonso, turut memuji kepemimpinan Mbappe.
Namun, tidak semua sepakat. Pandit sepak bola Walid Acherchour melontarkan kritik pedas, menyebut tindakan Mbappe sebagai “menyedihkan” dan egois. Acherchour berpendapat bahwa Mbappe terlalu ingin menjadi pusat perhatian. “Mbappé terlalu ingin menjadi karakter utama di setiap film,” kata Acherchour. “Ini bukan ceritamu, Kylian. Biarkan orang mengatasi rasa sakit mereka—saya tidak bisa memahaminya. Apakah Anda benar-benar berpikir Brahim Díaz akan pulang dan berkata, ‘Kylian membuat saya melupakan segalanya dengan gerakannya, dia menunjukkan kepada semua orang cara mencetak gol Panenka’?” Reaksi dari penggemar pun terpecah, ada yang menganggapnya sebagai gestur tulus, namun ada pula yang melihatnya sebagai ejekan terselubung.
Ini bukan kali pertama Mbappe menunjukkan kepemimpinan di luar lapangan. Sebelumnya, ia juga secara terbuka membela Vinícius Jr. ketika rekan setimnya itu mendapat cemoohan dari penonton, mendesak para penggemar untuk mengkritik seluruh tim daripada menargetkan satu pemain.