Korut Luncurkan Rudal Balistik di Tengah Latihan Militer Gabungan AS-Korsel

korea utara, rudal balistik, amerika serikat, korea selatan, freedom shield

(Korut) kembali melancarkan provokasi dengan menembakkan setidaknya satu pada Sabtu (14/3/2026) waktu setempat. Peluncuran ini dilakukan di tengah berlangsungnya latihan militer gabungan berskala besar antara (AS) dan (Korsel) yang memicu ketegangan di Semenanjung Korea.

Militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran proyektil tak teridentifikasi tersebut, sementara Kementerian Pertahanan Jepang mengonfirmasi bahwa itu adalah rudal balistik. Rudal-rudal tersebut dilaporkan ditembakkan dari wilayah dekat ibu kota Korut, Pyongyang, dan jatuh di perairan Laut Timur, di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang.

Aksi Pyongyang ini bertepatan dengan latihan militer tahunan AS-Korsel yang diberi nama Freedom Shield (FS), yang dimulai pada 9 Maret dan dijadwalkan berlangsung hingga 19 Maret 2026. Latihan ini melibatkan sekitar 18.000 personel militer dan dirancang untuk memperkuat postur pertahanan kedua sekutu dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks, termasuk skenario pencegahan terkait senjata nuklir Korea Utara.

Pemerintah Korea Utara secara konsisten mengecam latihan gabungan tersebut, menganggapnya sebagai persiapan invasi ke wilayah mereka. Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korut Kim Jong Un, pada 10 Maret 2026, menyebut latihan Freedom Shield sebagai “latihan perang yang provokatif dan agresif” yang berpotensi merusak stabilitas regional.

Peluncuran rudal balistik ini terjadi hanya beberapa hari setelah Kim Jong Un sendiri memantau uji coba rudal jelajah dari kapal perang terbaru Korea Utara. Pemimpin tertinggi tersebut menekankan urgensi untuk mempertahankan “penangkalan perang nuklir yang kuat dan dapat diandalkan” di tengah dinamika keamanan regional. Ketegangan semakin meningkat setelah Pyongyang juga baru-baru ini menolak upaya perdamaian dari Seoul, menyebutnya sebagai “lelucon yang canggung dan menipu,” serta mendesak Washington untuk mengakui status nuklir mereka.