Pasar mata uang kripto global dilanda gejolak signifikan menyusul serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Insiden ini memicu ketidakpastian geopolitik yang meluas di Timur Tengah, menyebabkan aset digital utama seperti Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam sebelum menunjukkan tanda-tanda pemulihan parsial.
Serangan gabungan AS dan Israel menargetkan fasilitas nuklir, situs militer, dan infrastruktur rezim di Iran, dengan laporan ledakan besar di sejumlah kota seperti Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Eskalasi konflik ini juga diwarnai dengan kabar meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi tersebut.
Reaksi Pasar Kripto dan Gejolak Geopolitik
Kabar serangan tersebut segera memicu kepanikan di pasar kripto yang beroperasi 24 jam. Bitcoin anjlok hingga 3,8 persen, menyentuh level sekitar 63.038 dollar AS, bahkan sempat menyentuh 63.000 dollar AS. Ethereum (ETH), mata uang kripto terbesar kedua, juga tidak luput dari tekanan, turun hingga 4,5 persen ke 1.836 dollar AS. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset digital menyusut sekitar 128 miliar dollar AS dalam waktu singkat.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan dengan rudal ke beberapa lokasi, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, serta mengancam pangkalan AS di Irak. Presiden AS Donald Trump, tak lama setelah serangan, menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka, menyebutnya sebagai “satu-satunya kesempatan mereka untuk generasi mendatang.” Tujuan operasi militer AS kali ini disebut-sebut tidak hanya melumpuhkan upaya nuklir Iran tetapi juga mendorong perubahan rezim.
Pemulihan Parsial dan Sentimen Investor
Meskipun sempat tertekan, Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada Minggu, 1 Maret 2026. Harga BTC naik 2,2 persen ke 68.196 dollar AS setelah konfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran. Ether juga mengalami kenaikan signifikan, melonjak 4,58 persen dan kembali menembus angka 2.000 dollar AS. Namun, penguatan ini dinilai belum cukup kuat karena kepercayaan investor masih terguncang oleh eskalasi geopolitik.
Komunitas internasional, termasuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, menyerukan penghentian permusuhan dan de-eskalasi segera. Negara-negara seperti Brasil, China, Afrika Selatan, dan India mendesak pihak-pihak berkonflik untuk kembali ke meja perundingan.
Bitcoin sebagai Aset Lindung Nilai?
Peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global kembali menjadi perdebatan. Beberapa analis mempertanyakan kemampuannya sebagai aset aman, mengingat volatilitasnya yang tinggi dan perilakunya yang cenderung mengikuti aset berisiko. Namun, karakteristik perdagangan 24/7 aset kripto menjadikannya “katup pelepas tekanan likuiditas” saat pasar tradisional tutup di akhir pekan. Justin d’Anethan, Head of Research di Arctic Digital, menyatakan, “Dengan sebagian besar leverage sudah tersapu dan tekanan jual mulai habis, dampak peristiwa makro menjadi terbatas.”
Di sisi lain, aset safe haven tradisional seperti emas dan perak melonjak harganya. Komoditas yang ditokenisasi seperti minyak, emas, dan perak di bursa terdesentralisasi Hyperliquid juga mengalami lonjakan harga, menunjukkan pergeseran minat investor. Pasar derivatif Bitcoin juga mencatat lonjakan volume penjualan sekitar 1,8 miliar dollar AS dalam satu jam pada Sabtu pagi, mencerminkan peningkatan aversi risiko jangka pendek.
Prospek Pasar ke Depan
Ketidakpastian geopolitik dari situasi Israel-Iran diperkirakan masih akan berlanjut. Pelaku pasar kini menantikan pembukaan kembali pasar saham AS dan ETF Bitcoin pada Senin, 2 Maret 2026, untuk melihat penemuan harga yang sebenarnya. Calvin Kizana, CEO Tokocrypto, menyarankan investor untuk mengambil pendekatan “wait and see” dan mengedepankan manajemen risiko di tengah fluktuasi yang meningkat. Ia menambahkan bahwa likuiditas global, arah suku bunga bank sentral, dan sentimen risiko global tetap menjadi pendorong utama harga Bitcoin.