Krisis Celtic Memuncak: Tersingkir dari Eropa, Fans Desak Perombakan Total

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

Glasgow, Skotlandia – Celtic Football Club tengah berada di titik nadir setelah tersingkir dari ajang 2025/2026. Kekalahan agregat 4-1 dari wakil Jerman, , pada babak play-off knockout, menjadi puncak dari serangkaian hasil mengecewakan yang telah memicu kemarahan besar di kalangan suporter setia mereka.

Klub berjuluk The Hoops ini mengakhiri tahun 2025 dengan predikat “Annus Horribilis”, sebuah tahun terburuk dalam sejarah modern klub, yang ditandai oleh keputusan dewan yang buruk dan ketidakpuasan penggemar yang meluas. Situasi di lapangan pun tak kalah suram. Celtic saat ini terdampar di posisi ketiga klasemen Liga Utama Skotlandia, tertinggal dari Heart of Midlothian dan rival abadi, Rangers.

Rentetan Pergantian Manajer dan Rekor Buruk

Musim 2025/2026 menjadi saksi bisu dari gejolak di kursi kepelatihan Celtic. Setelah kepergian Brendan Rodgers pada 27 Oktober 2025, sempat mengambil alih sebagai manajer interim. Namun, ia kemudian digantikan oleh Wilfried Nancy pada 4 Desember 2025.

Masa jabatan Nancy sangat singkat dan penuh bencana. Ia hanya bertahan selama 33 hari, mencatat enam kekalahan dari delapan pertandingan yang dipimpinnya. Nancy bahkan menorehkan rekor yang tidak diinginkan, menjadi manajer Celtic pertama dalam sejarah yang kalah dalam dua pertandingan pertamanya, yakni melawan Hearts dan AS Roma. Secara statistik, ia disebut sebagai manajer terburuk dalam sejarah Celtic. Setelah kegagalan tersebut, Martin O’Neill kembali ditunjuk sebagai manajer interim pada 5 Januari 2026.

Kekalahan Eropa dan Amarah Suporter

Puncak kekecewaan terjadi saat Celtic menjamu VfB Stuttgart di Celtic Park pada leg pertama play-off Liga Europa, 19 Februari 2026. Mereka takluk telak 4-1 di kandang sendiri. Pada leg kedua yang berlangsung 26 Februari 2026, Celtic hanya mampu bermain imbang 0-0, memastikan Stuttgart melaju ke babak berikutnya dengan agregat 4-1.

Kekalahan ini semakin memperpanjang rekor buruk Celtic di kompetisi Eropa, di mana mereka belum pernah meraih kemenangan di babak gugur sejak tahun 2004. Momen kekalahan dari Stuttgart juga diwarnai protes keras dari para suporter. Mereka melampiaskan kekecewaan dengan melemparkan bola-bola mini ke lapangan dan mencemooh kiper Kasper Schmeichel setelah kebobolan gol-gol mudah. Hubungan antara fans dan dewan klub memang telah tegang selama lebih dari setahun, terutama karena frustrasi atas strategi transfer pemain. Bahkan, kelompok ultras Green Brigade masih dilarang menghadiri pertandingan, menambah daftar panjang masalah internal klub.

Masa Depan Klub di Tengah Ketidakpastian

Di tengah krisis ini, Peter Lawwell telah mengundurkan diri dari jabatannya, dengan Brian Wilson mengambil alih sebagai ketua interim sejak 1 Januari 2026. Namun, desakan agar dewan bertindak lebih tegas, terutama dalam bursa transfer, semakin menguat. Para penggemar berharap Celtic tidak lagi mengulangi kesalahan dengan jendela transfer Januari yang pasif.

Sementara itu, spekulasi mengenai manajer permanen berikutnya terus beredar. Nama-nama seperti Roberto Martínez, pelatih tim nasional Portugal, dan Graham Potter, mantan manajer West Ham, disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Martin O’Neill yang masa interimnya akan berakhir di akhir musim. Mantan pemain Celtic, Fraser Fyvie, bahkan secara terbuka mendukung penunjukan Martínez, memuji gaya taktis dan ketenangannya di bawah tekanan.

Di tengah semua gejolak ini, Martin O’Neill sendiri mencatatkan tonggak sejarah pribadi. Pertandingan melawan Stuttgart pada 19 Februari 2026 menandai pertandingan ke-1.000 dalam karier manajerial profesionalnya. Namun, pencapaian individu ini terasa hambar di tengah performa tim yang jauh dari harapan, meninggalkan Celtic di persimpangan jalan menuju masa depan yang penuh tantangan.