Jera Co., perusahaan pembangkit listrik terbesar di Jepang sekaligus pembeli gas alam cair (LNG) terkemuka dunia, dilaporkan mengevakuasi stafnya dari kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil menyusul eskalasi tajam krisis di Iran yang memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas regional dan pasokan energi global.
Eskalasi konflik terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terkoordinasi terhadap Iran pada 28 Februari 2026, menargetkan situs militer dan kepemimpinan senior di Teheran. Serangan tersebut bahkan mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran pada 1 Maret 2026.
Dampak Krisis pada Jalur Pelayaran dan Energi
Sebagai respons, Iran melancarkan gelombang serangan drone dan rudal balasan ke Israel, aset-aset Amerika Serikat, serta beberapa negara Teluk, termasuk Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Yordania. Situasi ini semakin diperparah dengan ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur maritim vital yang menjadi koridor bagi sekitar 20% ekspor LNG global. Media pemerintah Iran bahkan menyatakan Selat Hormuz “praktis tertutup” pada 1 Maret 2026.
Gangguan di Selat Hormuz telah berdampak langsung pada pasar energi. Data pelacakan kapal menunjukkan setidaknya sebelas kapal tanker LNG yang terkait dengan Qatar telah menangguhkan operasi untuk menghindari transit melalui jalur air tersebut. Qatar sendiri merupakan eksportir LNG terbesar kedua di dunia, dengan lebih dari empat perlima pasokan LNG-nya dikirim ke pembeli di Asia pada tahun 2025.
Kekhawatiran Jepang dan Respons Pemerintah
Jepang, yang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk kebutuhan energinya, mengimpor lebih dari 90% minyak mentahnya dari kawasan tersebut. Jera Co., yang bertanggung jawab atas sepertiga pasokan listrik Jepang, baru saja menandatangani perjanjian pasokan LNG jangka panjang selama 27 tahun dengan QatarEnergy pada 3 Februari 2026, dengan pengiriman yang diharapkan dimulai pada tahun 2028. Perjanjian ini menggarisbawahi ketergantungan Jepang yang berkelanjutan pada pasokan energi dari Timur Tengah.
Pemerintah Jepang menyatakan keprihatinan mendalam. Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi telah menginstruksikan lembaga terkait untuk memantau situasi secara ketat, memastikan keselamatan warga negara Jepang di Timur Tengah, dan menilai dampak ekonomi yang mungkin terjadi. Selain Jera Co., perusahaan pelayaran raksasa Jepang seperti Nippon Yusen K.K, Kawasaki Kisen Kaisha, dan Mitsui OSK Lines juga telah menghentikan operasi di Teluk Persia, memerintahkan armada mereka untuk bersiaga di perairan aman. Maskapai Japan Airlines (JAL) juga telah menyesuaikan jadwal penerbangannya.
Potensi Krisis Energi Global
Para analis memperingatkan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz dapat memicu kekurangan pasokan yang sebanding dengan krisis gas Eropa pada tahun 2022. Hal ini berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak mentah global, bahkan hingga $150-$200 per barel, serta kenaikan harga gas yang drastis.
Di tengah ketegangan ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran terbuka untuk “upaya serius” guna menghentikan eskalasi dan memulihkan stabilitas, sembari mengapresiasi peran diplomatik Oman. Sementara itu, sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, India, Australia, Polandia, Finlandia, Swedia, Kanada, dan Prancis juga telah mengevakuasi staf kedutaan atau mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya di berbagai wilayah Timur Tengah.