Pasokan gas alam cair (LNG) global kembali menghadapi tekanan serius setelah dua fasilitas produksi utama di Australia mengalami gangguan operasional akibat terjangan Siklon Tropis Narelle. Insiden ini memperparah kondisi pasar energi dunia yang sebelumnya sudah bergejolak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Perusahaan energi Chevron mengonfirmasi bahwa pabrik gas Gorgon dan Wheatstone di Australia, yang secara kolektif menyumbang sekitar lima persen dari pasokan LNG global, mengalami pemadaman pada Kamis sore menyusul ancaman Siklon Tropis Narelle di lepas pantai Australia Barat. Chevron Australia menyatakan sedang berupaya memulihkan produksi dan akan kembali beroperasi penuh setelah kondisi aman.
Siklon Tropis Narelle sendiri merupakan fenomena cuaca ekstrem yang langka, melakukan tiga kali pendaratan di Queensland, Northern Territory, dan Australia Barat antara 20 hingga 23 Maret 2026. Badai ini mencapai kategori 5 dalam skala Australia, dengan kecepatan angin mencapai 225 kilometer per jam saat menghantam Semenanjung Cape York, Queensland. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia juga memantau pergerakan siklon Narelle di Samudra Hindia barat Australia, memperingatkan potensi hujan lebat dan gelombang tinggi di beberapa wilayah Indonesia hingga 27 Maret 2026.
Gangguan pasokan dari Australia ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi pasar LNG global. Sebelumnya, konflik militer antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel telah menyebabkan penutupan praktis Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026. Selat strategis ini merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan hampir 19 persen pasokan LNG global.
Dampak paling signifikan dari konflik Timur Tengah adalah serangan terhadap fasilitas Ras Laffan milik QatarEnergy, salah satu pabrik LNG terbesar di dunia. Operasional di fasilitas tersebut terhenti, mengakibatkan hilangnya kapasitas LNG sebesar 12,8 juta ton per tahun selama tiga hingga lima tahun ke depan. Kerusakan ini setara dengan 17 persen kapasitas pabrik Ras Laffan dan tiga persen dari total pasokan global.
Akibat guncangan pasokan ini, harga LNG di pasar Asia telah melonjak drastis hingga 143 persen sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, mencapai US$25,30 per juta British thermal units (mmBtu). Angka ini merupakan level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun dan jauh di atas ambang batas US$10 per mmBtu yang biasanya mendorong permintaan di pasar negara berkembang.
Sebelum serangkaian peristiwa ini, para analis memperkirakan tahun 2026 akan menjadi periode di mana pasokan LNG global akan melimpah, dengan tambahan kapasitas baru sekitar 93-150 juta ton per tahun yang diharapkan menekan harga dan menggeser pasar ke arah pembeli. Namun, gangguan ganda dari siklon di Australia dan konflik di Timur Tengah kini berpotensi mengubah proyeksi tersebut, menjaga ketidakpastian dan volatilitas harga di pasar energi global.