Dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terbukti menjadi katalisator penting bagi modernisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) genteng di Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Inisiatif ini tidak hanya memperkuat kapasitas produksi dan kualitas produk, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar, sejalan dengan program pemerintah ‘gentengisasi’ yang baru diluncurkan.
Kisah Sukses UMKM Genteng Hena Gian Hermana
Salah satu contoh nyata keberhasilan ini terlihat pada usaha genteng milik Hena Gian Hermana di Jatiwangi, sebuah sentra produksi genteng tanah liat yang telah lama dikenal di Indonesia. Usaha yang telah berdiri sejak tahun 1985 ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persaingan ketat, kenaikan biaya produksi, keterbatasan bahan baku, hingga berkurangnya tenaga kerja. Gian menuturkan bahwa banyak pabrik genteng kesulitan bertahan akibat tantangan tersebut.
Namun, perubahan signifikan terjadi setelah Gian mendapatkan akses pembiayaan KUR dari BRI. Dana tersebut dimanfaatkan untuk modernisasi pabrik, termasuk pembelian mesin cetak genteng yang lebih canggih dan perbaikan tungku pembakaran. Langkah ini secara langsung meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas genteng yang dihasilkan. “BRI ini tentu menjadi mitra utama bagi para pelaku usaha pabrik genteng, karena BRI memiliki fasilitas pinjaman bunga rendah KUR bagi para pelaku usaha UMKM seperti kami, sehingga kami senantiasa bisa terus melakukan produksi genteng,” ujar Gian.
KUR BRI 2026: Solusi Pembiayaan Berkelanjutan
Pada tahun 2026, program KUR BRI terus berlanjut sebagai komitmen pemerintah dalam memperkuat akses pembiayaan bagi UMKM di seluruh Indonesia. Program ini menawarkan suku bunga rendah, yakni 6 persen per tahun, dengan tenor pinjaman yang fleksibel hingga 5 tahun. Dana KUR dapat digunakan untuk modal kerja maupun investasi pengembangan usaha.
BRI menyediakan beberapa jenis KUR, antara lain KUR Super Mikro untuk usaha pemula, KUR Mikro dengan plafon hingga Rp100 juta tanpa agunan tambahan, dan KUR Kecil yang menawarkan fasilitas kredit mulai Rp100 juta hingga Rp500 juta dengan jaminan sesuai ketentuan bank. Syarat pengajuan meliputi status Warga Negara Indonesia (WNI), usia minimal 17 tahun atau sudah menikah, memiliki usaha produktif yang berjalan minimal 6 bulan, serta kelengkapan dokumen seperti e-KTP, Kartu Keluarga, dan legalitas usaha.
Pemberdayaan Holistik BRI untuk UMKM
Sebagai bank penyalur KUR terbesar, BRI tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga mengedepankan program pemberdayaan melalui pelatihan dan pendampingan. Direktur Utama BRI Sunarso menegaskan pentingnya pendekatan pemberdayaan berada di depan pembiayaan untuk kemajuan UMKM. Inisiatif seperti program Desa BRILiaN, KlasterkuHidupku, Rumah BUMN, dan platform digital LinkUMKM telah dimanfaatkan jutaan pelaku UMKM untuk memperluas pasar, meningkatkan kapasitas usaha, dan mempercepat proses naik kelas.
Riset BRI Research Institute menunjukkan bahwa pembiayaan KUR memberikan dampak positif signifikan terhadap peningkatan omzet usaha UMKM, bahkan mencapai level dua digit. Mayoritas atau 66,2% debitur mengalami peningkatan omzet setelah memperoleh pembiayaan.
Program Gentengisasi: Kebangkitan Industri Lokal
Dukungan terhadap UMKM genteng di Jatiwangi semakin diperkuat dengan dimulainya program ‘gentengisasi’ oleh pemerintah. Program ini merupakan implementasi kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong penggunaan produk UMKM dalam pembangunan perumahan rakyat. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait secara langsung melepas 14 truk berisi 75.000 genteng dari sentra produksi Jatiwangi sebagai langkah awal. Total pemesanan awal mencapai 24 truk dengan komitmen transaksi sekitar Rp3 miliar dari berbagai program pemerintah dan pengembang perumahan.
BRI mengambil peran strategis dalam memfasilitasi pembiayaan antara pengusaha genteng dan pengembang perumahan melalui KUR Perumahan. Menteri Maruarar menekankan pentingnya UMKM menjaga kualitas produk sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) agar memiliki daya saing tinggi di pasar yang lebih luas. Program ini diharapkan tidak hanya mengembalikan kejayaan genteng Jatiwangi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha dan pekerja di sektor tersebut.