Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berhasil menjadi tulang punggung bagi para pengrajin genteng di berbagai daerah, memungkinkan mereka meningkatkan kapasitas produksi di tengah lonjakan permintaan pasar. Peningkatan ini tak lepas dari inisiatif pemerintah melalui program gentengisasi dan masifnya pembangunan hunian di seluruh Indonesia.
Salah satu sentra produksi yang merasakan dampak positif ini adalah Majalengka, Jawa Barat. Hj. Nurhasanah, seorang pengrajin genteng dari Majalengka, mengungkapkan bahwa usahanya telah memperoleh dukungan pembiayaan dari KUR BRI selama sekitar empat tahun terakhir. Kerja sama ini menjadi penopang penting bagi keberlanjutan dan pengembangan usaha keluarganya.
Program Gentengisasi dan Dampaknya
Program gentengisasi, yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto, bertujuan untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat, khususnya dengan mengganti atap seng yang panas dan mudah berkarat dengan genteng tanah liat yang lebih layak dan tahan lama. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang berorientasi pada peningkatan estetika lingkungan dan penggerak ekonomi UMKM.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan bahwa program gentengisasi merupakan implementasi arahan Presiden Prabowo agar pembangunan rumah tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga menggerakkan UMKM dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Ia berharap semua UMKM pembuat genteng dapat terlibat dan menjaga kualitas produk sesuai standar SNI.
Dampak program ini mulai terasa signifikan. Di Majalengka, misalnya, pada 11 Maret 2026, sebanyak 14 truk atau sekitar 75.000 genteng dilepas sebagai langkah awal program gentengisasi. Total komitmen pemesanan genteng mencapai 24 truk dengan nilai transaksi sekitar Rp 3 miliar dari berbagai program pemerintah dan pengembang perumahan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat sendiri mengalokasikan perbaikan 250 unit rumah dengan potensi belanja genteng sekitar Rp 500 juta, sementara Pemerintah Kabupaten Majalengka menargetkan 1.715 unit perbaikan rumah senilai Rp 1,5 miliar untuk kebutuhan genteng di tahun 2026.
Selain di Jawa Barat, program gentengisasi juga mulai dilaksanakan di Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat, sebagai bagian dari penataan kawasan padat penduduk. Kementerian PKP menargetkan renovasi 52 rumah, di mana 23 di antaranya milik pelaku UMKM, dengan estimasi anggaran awal sekitar Rp 5 miliar dari dana CSR.
Peran Vital KUR BRI dalam Mendukung UMKM Genteng
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan komitmen BRI dalam mendukung pengembangan UMKM, termasuk para pengrajin genteng. BRI siap menjadi jembatan antara pengrajin dengan pembeli atau pengembang perumahan, memastikan rantai pasok berjalan efektif dan berkelanjutan. Melalui KUR, BRI menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku, perawatan mesin, hingga penambahan tenaga kerja, sehingga pengrajin dapat memenuhi pesanan tanpa kendala modal.
Usaha genteng milik keluarga Nurhasanah di Majalengka, yang mempekerjakan sekitar 150 orang, kini mampu memproduksi sekitar 16.000 keping genteng setiap minggunya dengan menggunakan 12 mesin press. Produk-produknya diminati konsumen dari berbagai kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung, hingga Tegal, dengan omzet bulanan mencapai ratusan juta rupiah.
Meskipun demikian, Nurhasanah juga menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan tenaga kerja. Ia menyebutkan bahwa mencari pekerja baru, terutama dari kalangan generasi muda, tidaklah mudah karena banyak yang lebih memilih bekerja di sektor industri lain.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menambahkan, industri genteng nasional saat ini beroperasi dengan tingkat utilisasi di atas 90 persen dan siap melakukan ekspansi kapasitas produksi. Namun, ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah terkait kepastian pasokan gas industri dan bahan baku tanah liat untuk menyukseskan program gentengisasi secara berkelanjutan.