Kyiv Soroti Tekanan AS di Tengah Perundingan Damai, Rusia Terus Gempur Ukraina

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Perang antara dan kini telah memasuki tahun keempat sejak invasi skala penuh pada 24 Februari 2022, dengan upaya diplomatik yang terus berlanjut namun diwarnai ketegangan dan serangan militer yang tak henti. Kyiv baru-baru ini menyoroti tekanan dari Amerika Serikat (AS) terkait , sementara Rusia terus melancarkan gempuran besar-besaran ke wilayah Ukraina.

Perundingan Damai di Jenewa dan Tekanan AS

Perundingan damai antara Ukraina dan Rusia, yang dimediasi oleh Amerika Serikat, telah berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 17-18 Februari 2026. Ini merupakan babak ketiga dari serangkaian dialog, setelah dua putaran sebelumnya digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 23-24 Januari dan 4-5 Februari 2026.

Presiden Ukraina secara terbuka mengkritik sikap AS yang dinilainya memberikan tekanan tidak adil kepada Ukraina agar bersedia melakukan konsesi teritorial dalam proses perdamaian. Zelensky menegaskan kesiapan negaranya untuk mengakhiri perang, namun mempertanyakan niat Rusia. “Kami siap mengakhiri perang ini. Pertanyaannya sekarang, apa sebenarnya yang diinginkan Rusia?” ujarnya.

Ketua delegasi Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan bahwa pembicaraan di Jenewa berfokus pada isu-isu praktis dan mekanisme kemungkinan keputusan, namun ia meredam harapan akan adanya terobosan besar dalam waktu singkat. Di sisi lain, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow sepakat dengan penilaian Presiden AS Donald Trump bahwa proses perdamaian semakin dekat, meski menolak memberikan detail spesifik. Namun, Rusia tetap menegaskan tidak akan ada kompromi terkait isu krusial pendudukan wilayah Ukraina.

Serangan Rusia dan Respons Ukraina

Di tengah upaya diplomatik, Rusia terus melancarkan serangan militer intensif. Pada 26 Februari 2026, Rusia menghujani Ukraina dengan 420 drone dan 39 rudal, menargetkan sektor energi dan infrastruktur kereta api. Serangan ini melukai sedikitnya 26 orang dan menyebabkan kerusakan parah di berbagai wilayah. Presiden Zelensky menekankan pentingnya bantuan pertahanan udara mengingat kondisi cuaca dingin dan upaya Rusia menghancurkan sistem energi Ukraina.

Sebagai respons preventif, Polandia dan Jerman mengerahkan jet tempur pada 16-17 Februari 2026 menyusul serangan udara Rusia yang mendekati perbatasan mereka. Sementara itu, di medan perang, Ukraina berhasil merebut kembali sekitar 201 kilometer persegi wilayah dari Rusia dalam beberapa hari pada Februari 2026, sebuah pencapaian terbesar sejak pertengahan 2023. Konflik ini juga menunjukkan evolusi perang dengan dominasi drone, di mana kedua belah pihak gencar berbalas serangan menggunakan drone kamikaze dan pengintai.

Desakan PBB dan Isu Senjata Nuklir

Pada 25 Februari 2026, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi yang mendesak perdamaian komprehensif, adil, dan berkelanjutan di Ukraina. Resolusi ini didukung oleh 107 negara dan menyoroti keprihatinan mendalam atas serangan Rusia terhadap warga sipil dan infrastruktur energi kritis Ukraina.

Dalam perkembangan lain, pada 28 Februari 2026, Presiden Zelensky menanggapi tuduhan Rusia yang menyebut Ukraina berupaya memperoleh senjata nuklir melalui Inggris dan Prancis. Zelensky menyatakan bahwa ia tidak pernah menerima tawaran tersebut, namun akan dengan senang hati menerimanya jika memang ada.