Laba Bersih Adaro Minerals (ADMR) Anjlok 38% di 2025, Tekanan Harga Batu Bara Jadi Pemicu

adaro minerals indonesia, admr, laba bersih, batu bara metalurgi, smelter aluminium

PT Tbk (), anak usaha dari PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang dimiliki oleh Garibaldi ‘Boy’ Thohir, membukukan kinerja keuangan yang kurang memuaskan sepanjang tahun 2025. perseroan tercatat anjlok signifikan hingga 38% dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, ADMR mencatatkan laba bersih sebesar USD 271 juta pada akhir tahun 2025. Angka ini jauh menurun dari perolehan laba bersih tahun 2024 yang mencapai USD 436,66 juta. Penurunan laba ini sejalan dengan terkoreksinya pendapatan usaha perseroan sebesar 15,70% secara tahunan (year-on-year) menjadi USD 972,95 juta pada 2025, dari sebelumnya USD 1,15 miliar di tahun 2024.

Faktor Utama Penekan Kinerja

Penyebab utama merosotnya kinerja ADMR adalah tekanan pada harga jual rata-rata (average selling price/ASP) . Harga komoditas ini dilaporkan turun lebih dari 25% menjadi USD 154 per ton sepanjang 2025. Padahal, segmen batu bara metalurgi menjadi kontributor dominan, menyumbang hampir 100% dari total pendapatan perseroan di tahun tersebut. Meskipun volume penjualan ADMR sempat mengalami peningkatan sebesar 12,5% menjadi 6,3 juta ton pada 2025, kenaikan ini belum mampu mengimbangi dampak negatif dari penurunan harga.

Selain itu, beban operasional perusahaan juga terpantau meningkat. Beban pokok pendapatan naik tipis 0,22% menjadi USD 577,68 juta pada 2025. Sementara itu, beban usaha perseroan juga mengalami kenaikan 13,30% menjadi USD 43,61 juta. ADMR juga mencatat adanya beban lain-lain sebesar USD 33,34 juta pada 2025, berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya yang masih membukukan penghasilan lain-lain. Beban ini termasuk pembentukan cadangan kerugian kredit ekspektasian senilai USD 31,4 juta atas pinjaman kepada pihak ketiga, PT Persada Sentral Mineral, yang dibukukan pada kuartal IV 2025.

Perbaikan Kinerja di Kuartal Akhir 2025

Meskipun kinerja tahunan menunjukkan penurunan, ADMR berhasil menunjukkan perbaikan pada kuartal IV 2025. Laba bersih pada periode ini meningkat 5% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) menjadi USD 67 juta. Laba usaha juga melonjak 57% QoQ, dengan margin laba usaha yang meluas menjadi sekitar 39,2%. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan volume produksi sebesar 21% QoQ dan harga jual rata-rata yang naik 7% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Prospek Smelter Aluminium dan Tantangan 2026

Di tengah tantangan bisnis batu bara, ADMR terus menggarap proyek hilirisasi mineral melalui pembangunan smelter aluminium oleh anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Proyek ini telah memasuki tahap komisioning atau pengujian pada akhir 2025. Direktur ADMR sekaligus Presiden Direktur KAI, Wito Krisnahadi, menyatakan bahwa smelter ini ditargetkan memulai operasi komersial secara bertahap pada kuartal keempat 2025, dengan kapasitas produksi awal hingga 500.000 ton aluminium ingot per tahun.

Produksi optimal dari smelter yang berlokasi di Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI), Kalimantan Utara, ini diharapkan tercapai pada September atau Oktober 2026. Pada tahun 2026, proyeksi konservatif menunjukkan potensi pendapatan dari smelter dapat mencapai USD 135 juta hingga USD 270 juta, yang berasal dari produksi sekitar 50.000 hingga 100.000 ton aluminium ingot. Angka ini berpotensi menyumbang 10-20% dari total pendapatan ADMR saat ini. Namun, perlu diwaspadai potensi munculnya beban bunga pinjaman sekitar USD 50 juta di laporan laba rugi pada 2026, seiring dengan beroperasinya smelter secara komersial.

Kondisi Neraca Keuangan

Dari sisi neraca, total aset ADMR tercatat meningkat menjadi USD 2,89 miliar pada akhir 2025. Namun, jumlah liabilitas perseroan juga melonjak signifikan menjadi USD 1,17 miliar, naik dari USD 571,33 juta pada akhir 2024. Sementara itu, total ekuitas ADMR juga menguat menjadi USD 1,72 miliar dari USD 1,5 miliar pada akhir 2024.