PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan perolehan laba bersih sebesar Rp32,76 triliun sepanjang tahun buku 2025. Angka ini menunjukkan koreksi sebesar 3,33% dibandingkan dengan capaian laba bersih pada tahun 2024 yang mencapai Rp33,9 triliun. Penurunan kinerja ini terutama disebabkan oleh fluktuasi harga batu bara global dan kondisi pasar mobil baru di Indonesia yang cenderung melemah.
Pendapatan dan Beban Operasional
Selain laba bersih, pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra juga mengalami sedikit penurunan. Sepanjang 2025, pendapatan bersih tercatat sebesar Rp323,39 triliun, menyusut 1,54% dari Rp328,48 triliun pada tahun 2024. Meskipun demikian, beban pokok pendapatan perseroan juga berhasil ditekan menjadi Rp251,94 triliun pada 2025, dari Rp255,42 triliun pada tahun sebelumnya.
Namun, efisiensi pada beban pokok pendapatan belum cukup menahan tekanan pada laba bruto yang tercatat Rp71,44 triliun, lebih rendah dari Rp73,06 triliun pada 2024. Laba sebelum pajak penghasilan juga terpangkas menjadi Rp49,28 triliun dari Rp53,00 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Akibatnya, laba per saham Astra ikut terkoreksi menjadi Rp810, dibandingkan Rp837 per saham pada 2024.
Faktor Pendorong dan Penekan Kinerja
Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro, menjelaskan bahwa penurunan laba Grup pada 2025 utamanya dipicu oleh harga batu bara yang lebih rendah dan lesunya pasar mobil baru. Meskipun demikian, Djony menegaskan bahwa kinerja bisnis Grup tetap tangguh berkat kontribusi positif dari unit bisnis lainnya.
Beberapa segmen bisnis yang menunjukkan resiliensi dan memberikan kontribusi lebih tinggi antara lain pertambangan emas, jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur, dan bisnis sepeda motor. Di sisi lain, segmen otomotif dan mobilitas masih menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan Rp125,65 triliun, diikuti oleh alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi sebesar Rp131,3 triliun.
Kondisi Neraca dan Prospek ke Depan
Dari sisi neraca, total aset Astra hingga akhir 2025 mencapai Rp507,36 triliun, meningkat dari Rp471,44 triliun pada 2024. Liabilitas juga mengalami peningkatan menjadi Rp216,55 triliun dari Rp199,44 triliun, sementara ekuitas tercatat sebesar Rp290,81 triliun, tumbuh 6,9% dibandingkan 2024. Nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2025 naik 8% menjadi Rp5.692.
Manajemen Astra juga mengusulkan dividen final sebesar Rp292 per saham untuk tahun buku 2025. Jika digabungkan dengan dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025, total dividen yang diusulkan untuk 2025 adalah Rp390 per saham. Angka ini lebih rendah dibandingkan total dividen 2024 sebesar Rp406 per saham, dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48%.
Menanggapi prospek ke depan, Djony Bunarto Tjondro menyatakan optimisme. “Meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis kami masih tetap menantang, kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik,” ujarnya. Selain itu, Astra dan United Tractors juga telah mengumumkan program pembelian kembali saham (share buyback) dengan nilai maksimum masing-masing Rp2 triliun, yang berlangsung dari November 2025 hingga Januari 2026, sebagai bentuk kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan.