PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berhasil membukukan lonjakan laba bersih yang signifikan sepanjang tahun buku 2025. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp493,85 miliar, melonjak sekitar 50,7% dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang tercatat Rp327,59 miliar.
Pencapaian laba bersih ini menjadi sorotan, mengingat perseroan justru mengalami penurunan pendapatan neto. Sepanjang 2025, pendapatan neto BNBR menyusut 3,28% menjadi Rp3,74 triliun, dari sebelumnya Rp3,86 triliun pada 2024. Laba bruto juga tercatat lebih rendah, yakni Rp744,38 miliar di 2025 dibandingkan Rp869,47 miliar di 2024, diikuti penyusutan laba usaha menjadi Rp116,86 miliar dari Rp282,87 miliar.
Kenaikan laba bersih BNBR didorong oleh beberapa faktor non-operasional. Salah satunya adalah keuntungan dari pengukuran kembali atas kepentingan ekuitas yang dimiliki sebelumnya sebesar Rp422,37 miliar, serta keuntungan dari pembelian diskon senilai Rp320,12 miliar. Selain itu, penghasilan lain-lain bersih perseroan melesat 277,93% menjadi Rp401,96 miliar pada 2025, dari Rp106,35 miliar pada 2024, yang turut mendorong laba sebelum pajak mencapai Rp518,83 miliar.
Keuntungan dari pengukuran kembali ekuitas tersebut berkaitan erat dengan langkah strategis perseroan melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI). Pada 28 November 2025, BTI mengakuisisi 72 juta saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan PT Waskita Toll Road (WTR). Sebelum transaksi ini, BNBR dan BTI telah memiliki 10% saham di CCT. Akuisisi tersebut menyebabkan keuntungan dari pengukuran kembali kepentingan ekuitas 10% yang dimiliki sebelumnya diakui dalam laporan laba rugi konsolidasian.
BNBR Siapkan Rights Issue untuk Perkuat Struktur Keuangan
Di tengah kinerja positif laba bersih, BNBR juga tengah mempersiapkan aksi korporasi penting lainnya, yaitu Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 90 miliar saham baru seri E dengan nilai nominal Rp12 per saham.
Rencana rights issue ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada Jumat, 27 Februari 2026. Dana yang terhimpun dari aksi korporasi ini akan dialokasikan untuk pembayaran kewajiban perseroan dan/atau anak usaha kepada kreditur, serta untuk memperkuat modal kerja dan mendukung pengembangan bisnis, termasuk optimalisasi aset jalan tol CCT.
Manajemen BNBR menyatakan bahwa PMHMETD ini krusial untuk memperbaiki struktur permodalan perseroan, terutama setelah pengambilalihan aset strategis seperti CCT. Setelah aksi ini, rasio pinjaman terhadap total aset diproyeksikan turun dari 84,28% menjadi 67,9%, sementara rasio utang terhadap ekuitas diperkirakan menurun signifikan dari 536,02% menjadi 211,57%. Namun, perseroan juga mengingatkan bahwa pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya dalam PMHMETD berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga maksimal 33,33%.
Secara keseluruhan, total liabilitas BNBR per Desember 2025 tercatat membengkak tajam menjadi Rp18,89 triliun, naik 547,6% dari Rp2,92 triliun pada Desember 2024. Sementara itu, total aset perseroan juga meningkat menjadi Rp23,56 triliun dari Rp6,82 triliun pada periode yang sama. Meskipun demikian, BNBR sempat mencatat kerugian neto sebesar Rp5,87 miliar selama periode Januari-September 2025, menandai kerugian pertama dalam empat tahun terakhir untuk periode tersebut.