Laba Bersih HRTA Melonjak 121% di 2025, Pendapatan Tembus Rp44,5 Triliun

pt hartadinata abadi tbk, hrta, laporan keuangan 2025, harga emas, margin keuntungan

() berhasil membukukan kinerja keuangan yang cemerlang sepanjang tahun buku 2025, dengan laba bersih melonjak signifikan sebesar 121% menjadi Rp978,5 miliar. Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang masif, menembus angka Rp44,5 triliun. Meskipun demikian, perusahaan distributor logam mulia ini masih menghadapi tantangan margin bisnis yang relatif tipis.

Kinerja Keuangan Melesat Didorong Penjualan dan Harga Emas

Laba bersih HRTA pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp978,5 miliar, mengalami kenaikan 121,29% dibandingkan dengan laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp442,18 miliar. Kenaikan laba ini sejalan dengan pertumbuhan penjualan neto yang meroket 144,39% secara tahunan, dari Rp18,23 triliun pada 2024 menjadi Rp44,5 triliun di akhir 2025. Lonjakan pendapatan ini turut mengerek laba kotor perusahaan menjadi Rp1,92 triliun, meningkat 75% dari tahun sebelumnya.

Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto, mengungkapkan bahwa kinerja positif ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan, penguatan global, serta kontribusi yang semakin solid dari segmen institusi seperti Bullion Bank dan jaringan ritel perseroan. Laba bersih per saham juga menunjukkan peningkatan signifikan, dari Rp96,02 menjadi Rp212,47 per lembar.

Tantangan Margin Tipis di Tengah Beban Pokok Pendapatan Tinggi

Meskipun pendapatan dan laba melonjak, HRTA menghadapi tantangan yang tipis. Beban pokok pendapatan perusahaan ikut melesat 148,63% secara tahunan, mencapai Rp42,63 triliun. Besarnya porsi beban pokok ini menyebabkan margin laba kotor HRTA hanya berada di kisaran 4,3%.

Tingginya beban pokok pendapatan ini sebagian besar dipicu oleh lonjakan pembelian bersih persediaan bahan baku yang mencapai Rp46,94 triliun, melompat 164,58%. Kenaikan harga emas dunia secara langsung berdampak pada biaya pengadaan bahan baku bagi perusahaan yang berperan sebagai distributor perhiasan dan emas. Sebagai konteks, harga emas global sempat menyentuh USD4.100 per troy ons pada Senin, 23 Maret 2026, dipengaruhi oleh tekanan makroekonomi.

Struktur Keuangan dan Prospek Bisnis

Dari sisi segmen usaha, penjualan HRTA didominasi oleh segmen grosir sebesar 87,57%, termasuk kontribusi dari Bullion Bank sebesar 71,22%. Sementara itu, segmen ritel menyumbang 11,68% dan gadai 0,32%. Perusahaan juga mencatat perbaikan signifikan pada arus kas operasi, yang berbalik positif menjadi Rp1,14 triliun dari posisi negatif Rp423,6 miliar pada tahun sebelumnya.

Posisi kas dan bank HRTA juga melonjak tajam 616% secara tahunan menjadi Rp1,53 triliun. Total aset perusahaan mencapai Rp12,6 triliun, naik 111% dibandingkan Rp5,96 triliun pada 2024. Meskipun liabilitas meningkat menjadi Rp9,37 triliun, ekuitas tetap tumbuh menjadi Rp3,23 triliun, mencerminkan akumulasi laba yang terjaga di tengah peningkatan skala bisnis. Rasio profitabilitas seperti Return on Assets (ROA) tercatat 7,76% dan Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 30,29%, dengan rasio utang berbunga terhadap ekuitas tetap stabil di level 1,39x.