PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), produsen roti merek Sari Roti, melaporkan penurunan signifikan pada laba bersihnya sepanjang tahun buku 2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk anjlok 28,70% secara tahunan (yoy) menjadi Rp258,51 miliar.
Kinerja keuangan yang kurang memuaskan ini berbanding terbalik dengan laba bersih perseroan pada tahun 2024 yang mencapai Rp362,56 miliar. Penurunan laba tersebut sejalan dengan pendapatan perseroan yang juga tergerus 4,58% yoy, dari Rp3,93 triliun pada 2024 menjadi Rp3,75 triliun pada akhir 2025.
Penjualan Lesu dan Tekanan Daya Beli Jadi Pemicu
Manajemen ROTI menjelaskan bahwa pelemahan daya beli konsumen dan perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi tantangan utama yang membayangi kinerja perseroan sepanjang 2025. Kondisi ini mengakibatkan penjualan yang lesu, yang pada gilirannya menekan profitabilitas perusahaan.
Selain laba bersih dan pendapatan, beberapa indikator keuangan lainnya juga menunjukkan penurunan. Laba usaha ROTI merosot 25,82% yoy menjadi Rp386,71 miliar, dibandingkan dengan Rp521,32 miliar pada tahun sebelumnya. Laba bruto juga menyempit 7,01% yoy menjadi Rp1,99 triliun dari Rp2,14 triliun. Meskipun beban pokok penjualan turun tipis 1,12% yoy menjadi Rp1,76 triliun, hal tersebut belum cukup untuk mengimbangi penurunan pendapatan.
Dari sisi struktur keuangan, total aset perseroan menyusut 5,61% yoy menjadi Rp3,53 triliun per akhir Desember 2025 dari Rp3,74 triliun. Sementara itu, total liabilitas justru naik 4,20% yoy menjadi Rp1,49 triliun dari Rp1,43 triliun, yang mencerminkan peningkatan kewajiban di tengah penurunan kinerja laba.
Kuartal IV 2025 Tunjukkan Perbaikan
Meski secara tahunan kinerja ROTI mengalami tekanan, perseroan mencatatkan perbaikan signifikan pada kuartal IV-2025. Laba bersih pada periode tersebut melonjak 87,7% secara kuartalan (QoQ) menjadi Rp122 miliar. Penjualan kuartal IV-2025 juga tumbuh 4,5% QoQ, mencapai Rp1,01 triliun.
Kenaikan kinerja di akhir tahun ini didorong oleh strategi peningkatan produktivitas, pengelolaan bahan baku yang lebih efisien, serta optimalisasi operasional. Selain itu, momentum liburan akhir tahun turut mendongkrak konsumsi masyarakat, khususnya untuk produk roti dan kue, baik melalui kanal modern trade maupun general trade.
Strategi “Growth BEYOND Bread” untuk 2026
Menyikapi tantangan dan peluang di masa depan, manajemen ROTI optimistis kinerja perseroan akan membaik pada tahun 2026. Perusahaan berkomitmen untuk memperkuat strategi diversifikasi melalui enam unit bisnis yang meliputi Sari Roti, Sari Kue, Sari Choco, Indosari Food Solutions, serta bisnis distribusi dan ritel. Langkah ini merupakan bagian dari visi “Growth BEYOND Bread” yang bertujuan untuk pertumbuhan jangka panjang.
ROTI juga akan fokus pada pengembangan lini produk bernilai tambah, seperti Javasari untuk segmen premium, dan ekspansi di segmen B2B serta layanan makanan melalui Food Solution. Perseroan menegaskan belum berencana membangun pabrik baru dalam 2-3 tahun ke depan, melainkan akan memaksimalkan kapasitas 15 pabrik yang telah beroperasi penuh dengan total produksi mencapai 5,4 juta potong roti per hari.