Raksasa semikonduktor Nvidia Corporation melaporkan kinerja keuangan kuartal keempat fiskal 2026 yang melampaui ekspektasi pasar pada Rabu, 25 Februari 2026. Hasil ini memicu penguatan signifikan di sebagian besar bursa saham Asia pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, dengan beberapa indeks utama bahkan mencetak rekor tertinggi baru.
Nvidia mencatatkan pendapatan sebesar US$68,1 miliar, melonjak 73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan laba per saham (EPS) mencapai US$1,62, naik 82% secara tahunan. Kedua angka tersebut jauh melampaui perkiraan analis. Perusahaan juga memberikan panduan pendapatan yang optimistis untuk kuartal pertama fiskal 2027, memproyeksikan sekitar US$78 miliar, yang juga di atas konsensus pasar. CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa permintaan chip Nvidia masih “melonjak” dan menyatakan, “AI ada di sini, AI tidak akan kembali.”
Reaksi Pasar Asia Beragam, KOSPI dan Nikkei Cetak Rekor
Meskipun laporan keuangan Nvidia sangat kuat, saham perusahaan itu sendiri menunjukkan reaksi yang cenderung datar atau “lesu” dalam perdagangan setelah jam kerja dan bahkan sempat melemah pada awal perdagangan Kamis. Para analis menilai ekspektasi investor sudah sangat tinggi, sehingga menyisakan sedikit ruang untuk kenaikan lebih lanjut. Kekhawatiran mengenai tingkat inventaris, penjualan di Tiongkok, potensi ancaman pangsa pasar dari chip milik pesaing, serta keberlanjutan investasi infrastruktur juga masih membayangi. Beberapa pihak bahkan melihatnya sebagai skenario “jual saat berita muncul.”
Namun, sentimen positif dari hasil Nvidia lebih dominan di pasar Asia secara keseluruhan. Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi yang paling menonjol, melonjak lebih dari 2% (beberapa sumber menyebut 2,3% hingga 3,67%) mencapai rekor tertinggi baru di kisaran 6.222,29 hingga 6.307,27 poin. Penguatan ini didorong oleh saham-saham produsen chip utama seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, yang merupakan pemasok penting bagi Nvidia. KOSPI sendiri telah menguat signifikan, sekitar 44% hingga hampir 50% sejak awal tahun ini.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga menembus rekor tertinggi baru, melampaui angka 59.000 dan ditutup menguat sekitar 0,2% hingga 0,29% di level 58.715,33 hingga 58.753,39. Kenaikan ini sebagian didukung oleh ekspektasi kebijakan suku bunga rendah dari Bank of Japan dan pelemahan yen yang menguntungkan eksportir. Meskipun demikian, beberapa saham teknologi lokal, khususnya produsen chip, mengalami aksi ambil untung.
Di sisi lain, bursa saham Tiongkok menunjukkan pergerakan yang stabil setelah reli dua hari pasca-liburan, sementara indeks Hang Seng Hong Kong justru melemah 0,4% hingga 1,44%. Pelemahan di Hong Kong disebabkan oleh penurunan saham-saham teknologi lokal dan aksi ambil untung. Sementara itu, indeks ASX 200 Australia juga naik 0,5% mencapai rekor tertinggi baru.
Optimisme Sektor AI Tetap Tinggi
Meskipun reaksi saham Nvidia sendiri tidak terlalu euforia, laporan keuangannya yang kuat membantu meredakan beberapa kekhawatiran investor tentang keberlanjutan ledakan kecerdasan buatan (AI) dan apakah investasi besar akan membuahkan hasil. Namun, kehati-hatian tetap ada, dan beberapa analis memperingatkan bahwa ledakan AI tidak akan mengangkat semua saham teknologi secara merata.
Secara keseluruhan, sektor AI dipandang sebagai pendorong pertumbuhan utama, dengan banyak perusahaan yang beralih dari fase eksperimen menuju tuntutan pengembalian investasi (ROI) yang nyata pada tahun 2026. Analis masih mempertahankan konsensus peringkat “Strong Buy” untuk Nvidia, dengan target harga rata-rata US$268,57.