Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde kembali menegaskan komitmennya untuk menuntaskan masa jabatannya hingga akhir Oktober 2027. Pernyataan ini muncul di tengah maraknya spekulasi mengenai kemungkinan pengunduran dirinya lebih awal, yang ramai diberitakan oleh media-media besar Eropa dalam beberapa hari terakhir.
Dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal pada Kamis, 20 Februari 2026, Lagarde menyatakan bahwa ekspektasi utamanya adalah menyelesaikan masa tugasnya sebagai kepala bank sentral zona euro. “Ketika saya melihat kembali semua tahun ini, saya pikir kami telah mencapai banyak hal,” ujar Lagarde, menambahkan bahwa fokus saat ini adalah memastikan pencapaian tersebut “solid dan dapat diandalkan.” Ia juga menekankan misinya untuk menjaga stabilitas harga dan keuangan, serta melindungi euro agar tetap “solid dan kuat serta siap untuk masa depan Eropa.”
Spekulasi Pengunduran Diri Dini dan Latar Belakang Politik
Spekulasi mengenai pengunduran diri dini Lagarde mencuat setelah laporan dari Financial Times pada Rabu, 18 Februari 2026. Laporan tersebut, yang mengutip sumber yang dekat dengan pemikiran Lagarde, menyebutkan bahwa keputusan tersebut bertujuan untuk memungkinkan Presiden Prancis Emmanuel Macron memiliki pengaruh dalam pemilihan penggantinya sebelum pemilihan presiden Prancis pada April 2027.
Presiden Macron sendiri tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga setelah masa jabatannya berakhir pada April 2027. Kekhawatiran akan potensi kemenangan partai sayap kanan dalam pemilihan presiden Prancis 2027 disebut-sebut menjadi faktor yang memperumit proses pemilihan pemimpin ECB berikutnya. Secara tradisional, dukungan dari Prancis dan Jerman sangat krusial dalam penunjukan Presiden ECB, meskipun semua pemimpin negara zona euro harus menyetujuinya.
Respons ECB dan Pasar
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara ECB menyatakan bahwa “Presiden Lagarde sepenuhnya fokus pada misinya dan belum mengambil keputusan apa pun terkait akhir masa jabatannya.” Respons ini sedikit berbeda dari pernyataan ECB tahun lalu, ketika spekulasi serupa muncul, di mana ECB kala itu menegaskan Lagarde “bertekad untuk menyelesaikan masa jabatannya.”
Reaksi pasar terhadap potensi pengunduran diri Lagarde terbilang tenang. Imbal hasil obligasi dan nilai tukar euro menunjukkan sedikit perubahan, mengindikasikan bahwa investor tidak mengharapkan perubahan kebijakan moneter yang signifikan akibat pergantian kepemimpinan. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa sebagian besar keputusan penting ECB diambil berdasarkan konsensus, sehingga perubahan pimpinan mungkin tidak serta-merta mengubah arah kebijakan.
Konteks dan Proyeksi Ekonomi
Christine Lagarde menjabat sebagai Presiden ECB sejak 1 November 2019, dengan masa jabatan delapan tahun yang tidak dapat diperbarui. Masa kepemimpinannya ditandai oleh berbagai peristiwa besar, termasuk pandemi COVID-19, krisis energi pasca-invasi Rusia ke Ukraina, dan siklus pengetatan moneter paling tajam dalam sejarah ECB untuk mengendalikan inflasi yang mencapai rekor tertinggi.
Proyeksi staf Eurosystem terbaru pada Desember 2025 menunjukkan inflasi utama diperkirakan rata-rata 2,1 persen pada 2025, 1,9 persen pada 2026, 1,8 persen pada 2027, dan 2,0 persen pada 2028. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi direvisi naik menjadi 1,4 persen pada 2025, 1,2 persen pada 2026, 1,4 persen pada 2027, dan 1,4 persen pada 2028. Kondisi ekonomi zona euro saat ini digambarkan relatif tenang, dengan inflasi mendekati target, suku bunga netral, dan pertumbuhan pada potensi, yang oleh sebagian pihak disebut sebagai “nirwana bank sentral.”
Sebelumnya, Gubernur Bank Sentral Prancis Francois Villeroy de Galhau juga telah mengumumkan pengunduran dirinya lebih awal pada Juni tahun ini, lebih dari setahun sebelum masa jabatannya berakhir, memungkinkan Presiden Macron menunjuk penggantinya sebelum pemilihan presiden. Selain posisi Presiden ECB, dua kursi di Dewan Eksekutif ECB, yang saat ini dipegang oleh Kepala Ekonom Philip Lane dan Isabel Schnabel, juga akan kosong tahun depan.