PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berhasil melampaui target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang tahun 2025. Realisasi penyaluran KUR BRI mencapai Rp 178,08 triliun, melampaui target yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 175 triliun. Pencapaian ini menjangkau sekitar 3,8 juta debitur di various wilayah Indonesia.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa BRI secara konsisten mengambil peran strategis dalam mendukung berbagai program prioritas pemerintah, khususnya dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “BRI ini memang dari dulu adalah backbone-nya untuk penyaluran kredit usaha rakyat karena memiliki dampak langsung terhadap ketahan pangan dan ekonomi daerah,” ujar Hery.
Penyaluran KUR BRI pada tahun 2025 didominasi oleh sektor pertanian, dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 80,09 triliun. Angka ini setara dengan 44,97 persen dari total penyaluran KUR BRI pada periode tersebut. Secara nasional, Kementerian UMKM mencatat realisasi penyaluran KUR keseluruhan pada 2025 mencapai Rp 270 triliun kepada 4,6 juta debitur, di mana Rp 163,9 triliun disalurkan ke sektor produksi dan Rp 106,1 triliun ke sektor nonproduksi.
Kinerja Keuangan Solid di Tengah Dinamika Ekonomi
Selain capaian KUR yang impresif, BRI juga membukukan kinerja keuangan positif secara keseluruhan pada akhir 2025. Perseroan mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 57,13 triliun. Meskipun angka ini sedikit menurun 5,26 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp 60,30 triliun, Hery Gunardi menyatakan bahwa kinerja tersebut ditopang oleh perbaikan fundamental dan inisiatif transformasi yang dilakukan perseroan. “Dengan berbagai inisiatif transformasi yang telah berjalan dengan baik, kinerja keuangan BRI hingga akhir 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan,” kata Hery.
Total aset BRI per akhir 2025 tumbuh 7,1 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp 2.135 triliun. Penyaluran kredit secara keseluruhan tumbuh 12,3 persen yoy menjadi Rp 1.521 triliun, melampaui pertumbuhan kredit perbankan nasional yang sebesar 9,6 persen sepanjang 2025, dengan fokus utama pada segmen UMKM. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI juga menunjukkan peningkatan solid sebesar 7,4 persen yoy menjadi Rp 1.467 triliun, didorong oleh pertumbuhan dana murah atau CASA yang mencapai 70,6 persen. Rasio biaya dana (cost of fund) DPK BRI juga membaik, turun menjadi 2,9 persen pada akhir 2025 dari 3,1 persen pada 2024.
Namun, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) secara gross tercatat meningkat menjadi 3,29 persen pada akhir 2025. Sementara itu, rasio loan to deposit ratio (LDR) berada pada level 91,4 persen, menunjukkan likuiditas yang memadai. Anak usaha BRI Group turut berkontribusi signifikan terhadap laba konsolidasi, menyumbang Rp 10,37 triliun atau 18,2 persen dari total laba, dengan PT Pegadaian menjadi kontributor terbesar.
Dukungan Program Pemerintah Lain dan Proyeksi 2026
Selain KUR, BRI juga aktif mendukung program pemerintah lainnya, termasuk penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Sepanjang tahun 2025, BRI telah menyalurkan KPR subsidi senilai Rp 16,16 triliun kepada lebih dari 118.000 debitur. Untuk tahun 2026, BRI optimistis dapat menyalurkan pembiayaan FLPP untuk 60.000 unit rumah bersubsidi.
Melihat ke depan, pemerintah telah menetapkan target penyaluran KUR nasional yang lebih tinggi pada tahun 2026, mencapai Rp 320 triliun. Kebijakan baru juga akan diterapkan, di antaranya penetapan bunga flat sebesar 6 persen per tahun untuk seluruh pengajuan KUR, serta penghapusan batasan pengajuan KUR berulang kali untuk sektor-sektor produktif. Dari total target 2026, sebesar 65 persen akan dialokasikan ke sektor produksi, meningkat dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan komitmen berkelanjutan pemerintah dan BRI dalam memperkuat UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.