Pemerintahan Donald Trump secara resmi meluncurkan inisiatif baru bernama ‘Technology Prosperity Corps’ atau ‘Tech Corps‘. Program ini dirancang untuk mengirim ribuan lulusan sains dan matematika Amerika Serikat ke berbagai negara di dunia, dengan misi utama mempromosikan teknologi kecerdasan buatan (AI) buatan AS dan menekan dominasi teknologi China.
Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih, Michael Kratsios, dijadwalkan mengumumkan program ini pada Jumat, 20 Februari 2026, di India AI Impact Summit. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi luas Trump untuk memastikan Amerika Serikat memenangkan perlombaan AI global, khususnya dalam persaingan sengit dengan China.
Misi Global untuk Dominasi Teknologi AS
Tech Corps akan mengerahkan hingga 5.000 sukarelawan dan penasihat Amerika selama lima tahun ke depan ke negara-negara mitra Peace Corps. Para ahli ini akan bertugas untuk mengarahkan negara-negara tersebut agar lebih mengandalkan perangkat keras dan perangkat lunak AI Amerika, sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk-produk kompetitor dari China. Langkah ini secara langsung menanggapi inisiatif ‘Jalur Sutra Digital’ yang telah lama dijalankan Beijing, di mana perusahaan-perusahaan China membangun jaringan telekomunikasi dan infrastruktur digital di berbagai benua, termasuk di Amerika Selatan, Afrika, dan sebagian Eropa.
Kratsios dalam pidato yang telah disiapkan menyatakan bahwa inisiatif baru ini akan “menanamkan talenta teknis sukarela dengan mitra impor untuk memberikan dukungan ‘last-mile’ dalam menerapkan aplikasi AI yang kuat untuk layanan publik yang ditingkatkan.” Program ini juga akan memanfaatkan upaya ‘American AI Exports Program’ yang telah diumumkan sebelumnya melalui perintah eksekutif pada Juli, yang menawarkan paket chip, server, model AI, layanan cloud, dan jaringan kepada negara-negara.
Pendanaan dan Pelaksanaan
Pendanaan untuk Tech Corps akan berasal dari berbagai sumber, termasuk kontribusi dari perusahaan dan lembaga amal, serta alokasi anggaran Peace Corps sebesar $410 juta untuk tahun fiskal 2026 yang telah ditandatangani oleh Presiden Trump awal bulan ini. Proses rekrutmen dan pelatihan untuk angkatan pertama yang terdiri dari 500 profesional dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2026. Selain itu, Departemen Luar Negeri dan lembaga pembiayaan seperti Development Finance Corporation dan Export-Import Bank diharapkan memperkenalkan peluang pembiayaan baru untuk mendukung adopsi AI Amerika secara global.
Persaingan AI AS-China dan Kebijakan Lain
Presiden Trump secara konsisten menegaskan bahwa Amerika Serikat memimpin China dalam perlombaan AI. Namun, para ahli industri berpendapat bahwa model AI China hanya tertinggal beberapa bulan di belakang AS, dan China memiliki keunggulan dalam hal tenaga kerja serta kapasitas pembangkit listrik untuk pusat data. Pemerintahan Trump juga telah melonggarkan beberapa regulasi industri untuk memungkinkan perusahaan AI AS berekspansi dengan lebih sedikit batasan, serta memperkuat kontrol ekspor pada chip AI, meskipun beberapa kelonggaran telah diberikan untuk penjualan chip tertentu ke China.
Di sisi lain, kebijakan imigrasi Trump sebelumnya telah menuai kritik karena dianggap menghambat masuknya talenta STEM asing ke AS, yang oleh beberapa pakar dinilai dapat merugikan kepemimpinan AI Amerika. Namun, inisiatif Tech Corps ini menunjukkan fokus baru pada proyeksi kekuatan teknologi AS ke luar negeri sebagai strategi untuk memenangkan persaingan global.