Situasi di Timur Tengah kembali memanas, menempatkan Lebanon pada posisi yang sangat rentan di tengah ancaman konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran akan eskalasi ini semakin nyata setelah Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut mengevakuasi puluhan personel non-esensial dan anggota keluarga pada Senin, 23 Februari 2026. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap peningkatan ketegangan antara Washington dan Teheran, yang memicu spekulasi mengenai potensi perang terbuka di kawasan tersebut.
Eskalasi ini terjadi menjelang putaran baru perundingan nuklir antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa tindakan militer terhadap Iran akan dipertimbangkan jika kesepakatan nuklir tidak tercapai dalam 10 hingga 15 hari ke depan. Pernyataan ini menambah bobot pada ketegangan yang sudah tinggi, terutama dengan pengerahan kekuatan militer AS yang masif di Teluk Persia dan serangkaian latihan militer oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Di tengah pusaran ketegangan ini, Lebanon menghadapi dilema besar. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, berulang kali menekankan netralitas negaranya dan mendesak Hizbullah untuk tidak menyeret Lebanon ke dalam konflik asing, khususnya terkait intervensi terhadap operasi militer Israel di Gaza. Namun, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, pada Januari 2026, menyampaikan sinyal yang berbeda. Ia menyatakan bahwa setiap serangan Amerika terhadap Iran akan dianggap sebagai serangan terhadap Hizbullah, menegaskan, “Ketika waktunya tiba untuk mengambil sikap, kami tidak akan ragu.”
Ancaman dari Israel, sekutu utama AS di kawasan, juga semakin memperkeruh suasana. Israel telah memberikan peringatan keras bahwa jika Hizbullah terlibat dalam perang AS-Iran, Beirut, termasuk infrastruktur sipil, akan menjadi sasaran. Dua pejabat Lebanon bahkan mengonfirmasi ancaman tersebut pekan ini. Burcu Ozcelik, peneliti senior keamanan Timur Tengah di Royal United Services Institute (RUSI), menilai Iran kemungkinan besar mengharapkan kontribusi Hizbullah, terutama dengan menekan Israel, jika perang pecah.
Namun, Hizbullah sendiri menghadapi situasi domestik yang kompleks. Desakan integrasi oleh Presiden Lebanon, Joseph Aoun, serta kepentingan jangka panjang Hizbullah sebagai aktor politik di dalam negeri, membuat keterlibatan dalam perang terbuka menjadi lebih berisiko. Mohanad Hage Ali dari Malcolm H. Kerr Carnegie Middle East Center di Beirut bahkan menilai Hizbullah “jauh lebih lemah dan terfragmentasi” serta proses pengambilan keputusannya “makin terpecah” pasca-konflik 2023-2024.
Kondisi Lebanon saat ini merupakan akumulasi dari serangkaian krisis yang tak berkesudahan. Sejak 2019, negara ini diguncang krisis ekonomi dan politik yang parah, ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut pada Agustus 2020, serta konflik Hizbullah-Israel yang berlangsung selama 2023-2024. Gencatan senjata pada November 2024 mengakhiri 11 bulan bentrokan dan dua bulan perang terbuka antara Israel dan Hizbullah, yang menewaskan sekitar 4.000 orang dan menyebabkan kerusakan meluas di Lebanon selatan serta sebagian Beirut, dengan perkiraan biaya rekonstruksi mencapai USD 11 miliar atau sekitar Rp184 triliun. Meskipun gencatan senjata mensyaratkan pelucutan senjata Hizbullah, kelompok itu baru menyerahkan senjata di selatan Sungai Litani, menolak melucuti seluruh persenjataan dengan alasan pertahanan diri dari serangan Israel. Israel sendiri terus melancarkan serangan sporadis, mengklaim menargetkan ancaman Hizbullah.
Di tengah ketidakpastian ini, harapan terhadap rekonstruksi internasional menipis, karena banyak pihak mengaitkannya dengan pelucutan senjata Hizbullah. Konferensi dukungan untuk Angkatan Darat Lebanon yang dijadwalkan pada 5 Maret 2026 di Paris, dengan partisipasi Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Prancis, diharapkan dapat menjadi kunci untuk implementasi tahap kedua pelucutan senjata Hizbullah di utara Sungai Litani. Namun, warga Lebanon kembali menjadi penonton cemas. Nadim El Riz, seorang videografer berusia 35 tahun, merasa putus asa dan memperkirakan perang besar antara Iran beserta proksinya melawan Amerika dan Israel hanya soal waktu.