Marquez: “Penalti Terlambat, Harusnya di Tikungan Tiga”

Pembalap tim Ducati Lenovo, , tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya setelah dijatuhi penalti pada yang berlangsung di Sirkuit Internasional Buriram, Sabtu (28/2) kemarin. Insiden tersebut terjadi saat ia berduel sengit dengan dari Red Bull KTM Factory Racing, yang berujung pada perubahan hasil balapan.

Marquez, juara dunia bertahan, harus merelakan kemenangan Sprint Race pertamanya musim ini setelah FIM Stewards memutuskan untuk memberinya penalti ‘turun satu posisi’. Penalti ini diberikan menyusul manuver agresifnya terhadap Acosta di tikungan terakhir pada lap kedua belas dari total tiga belas lap, yang menyebabkan kontak minor dan membuat Acosta melebar.

Kekesalan utama Marquez bukan pada penalti itu sendiri, melainkan pada waktu notifikasi yang dinilai sangat terlambat. Ia mengaku baru menerima pesan penalti di dasbor motornya saat mendekati tikungan terakhir di lap penutup.

“Ada kontak kecil, tapi motor saya sudah setengah di depan sejak masuk tikungan,” ujar Marquez kepada MotoGP.com. “Jadi, para steward memutuskan untuk memberikan penalti. Oke. Menurut pendapat saya, penalti itu, pesan itu, datang terlalu terlambat karena baru tiba di tikungan terakhir.”

Pembalap berjuluk ‘The Baby Alien’ itu menegaskan bahwa jika steward ingin menerapkan sistem yang lebih ketat, mereka harus lebih cepat dalam mengambil keputusan. “Jika mereka ingin memiliki sistem ini, jika mereka ingin lebih ketat, mereka harus mengirim penalti sudah di pintu keluar tikungan tiga. Jangan menunggu sampai tikungan terakhir,” tambahnya.

Marquez juga sempat terlihat memberikan gestur tepuk tangan ke arah kantor Steward setelah balapan, sebuah ekspresi yang diinterpretasikan sebagai sindiran atas keputusan tersebut. Meskipun demikian, ia menyatakan menerima keputusan tersebut dan akan beradaptasi dengan “era baru MotoGP” ini. “Aturan baru seperti ini, jadi kami harus beradaptasi,” katanya.

Acosta Raih Kemenangan Perdana, Kontroversi Lain Menyelimuti

Dengan penalti yang diterima Marquez, Pedro Acosta secara resmi meraih kemenangan Sprint Race perdananya di kelas utama, sekaligus menjadi pembalap KTM pertama yang memimpin klasemen Kejuaraan Dunia MotoGP musim 2026 dengan 12 poin, unggul 3 poin dari Marquez yang berada di posisi kedua. Acosta sendiri mengakui bahwa ia akan melakukan manuver serupa jika berada di posisi Marquez. “Tentu. Maksud saya, inilah yang membuat MotoGP sangat menarik,” ujarnya.

Namun, kontroversi tidak hanya berhenti pada insiden Marquez-Acosta. Sebelumnya, pada lap pertama, pembalap lain, Alex Marquez (saudara Marc), terlibat insiden dengan Fabio Di Giannantonio di Tikungan 3 yang membuat Di Giannantonio melebar keluar lintasan. Anehnya, Alex Marquez tidak menerima penalti atas insiden tersebut, memicu kemarahan Di Giannantonio yang kemudian mendatangi Race Direction untuk meminta penjelasan.

Davide Tardozzi, Manajer Tim Ducati, juga dilaporkan “geram” atas penalti yang menimpa Marc Marquez. Reaksi para penggemar di media sosial pun terbelah, dengan banyak yang menyatakan ketidakpuasan terhadap keputusan steward, bahkan menyebut mereka “bodoh” dan mempertanyakan konsistensi dalam penerapan aturan.

Sprint Race MotoGP Thailand 2026 memang menjadi pembuka musim yang penuh drama. Marco Bezzecchi (Aprilia Racing), yang meraih pole position, harus mengakhiri balapan lebih awal setelah terjatuh di lap kedua, membuka jalan bagi duel sengit antara Marquez dan Acosta. Hasil ini memastikan bahwa perdebatan mengenai peran steward dan dampak keputusan mereka terhadap hasil balapan akan terus menjadi sorotan di awal musim MotoGP 2026.