Situasi pelatih Simone Inzaghi di kursi kepelatihan Al Hilal kini tengah menjadi sorotan tajam. Setelah awal musim yang menjanjikan, performa tim raksasa Arab Saudi tersebut belakangan menunjukkan penurunan drastis, membuat masa depan Inzaghi mulai dipertanyakan di tengah persaingan ketat Liga Pro Saudi.
Inzaghi, yang secara resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala Al Hilal pada 4-5 Juni 2025 setelah meninggalkan Inter Milan, menandatangani kontrak berdurasi dua tahun dengan gaji fantastis yang dilaporkan mencapai Rp 482 miliar per tahun. Awalnya, sentuhan dingin pelatih asal Italia ini membawa Al Hilal terbang tinggi, bahkan sempat memuncaki klasemen Liga Pro Saudi dengan keunggulan tujuh poin dari para pesaingnya.
Al Hilal Tergelincir, Ditelikung Rival
Namun, angin berubah arah. Per 28 Februari 2026, Al Hilal kini terdampar di posisi ketiga klasemen sementara Liga Pro Saudi dengan 55 poin. Mereka telah disalip oleh Al Ahli yang memimpin dengan 59 poin, serta rival abadi Al Nassr yang diperkuat Cristiano Ronaldo, yang kini menduduki peringkat kedua dengan 58 poin.
Salah satu kekalahan paling menohok terjadi pada 13 Januari 2026, ketika Al Hilal takluk 3-1 dari Al Nassr dalam Derby Riyadh yang panas. Pertandingan tersebut diwarnai dua gol penalti dan kartu merah untuk kiper Al Nassr, namun gol Cristiano Ronaldo tetap tak mampu dibendung dan Al Hilal harus mengakui keunggulan tim Ronaldo Cs. Hasil ini menjadi pukulan telak yang semakin memperkeruh suasana di kubu Al Hilal.
Badai Cedera dan Jadwal Padat
Tekanan terhadap Inzaghi semakin bertambah dengan absennya bintang baru, Karim Benzema, yang didatangkan pada bursa transfer Januari 2026. Cedera yang dialami Benzema membuat Inzaghi kesulitan meramu strategi terbaik dan memaksimalkan potensi skuad bertabur bintang yang ia warisi.
Manajemen Al Hilal dikabarkan mulai melancarkan tekanan terhadap Inzaghi, dan spekulasi mengenai pemecatan akan semakin menguat jika rentetan hasil buruk terus berlanjut. Ditambah lagi, Al Hilal dihadapkan pada jadwal pertandingan yang sangat padat dan krusial. Pada 27 Februari 2026, mereka dijadwalkan menghadapi Al Shabab di Liga Pro Saudi. Setelah itu, tantangan berat menanti di babak 16 besar Liga Champions Asia melawan klub Qatar, Al Sadd, yang dilatih Roberto Mancini. Tak hanya itu, Al Hilal juga harus berjuang di semifinal King’s Cup menghadapi pemuncak klasemen Liga Pro Saudi, Al Ahli.
Ekspektasi Tinggi dan Piala Dunia Antarklub
Ekspektasi di Al Hilal memang sangat tinggi. Klub ini dikenal tidak segan-segan mengganti pelatih jika target tidak tercapai, seperti yang terjadi pada Jorge Jesus sebelumnya. Jesus, yang sempat membawa Al Hilal mencatat rekor 34 kemenangan beruntun di semua kompetisi dan meraih gelar liga, harus berpisah pada Mei 2025 setelah gagal di Liga Champions Asia dan tertinggal di liga.
Di tengah semua tantangan ini, Inzaghi juga harus mempersiapkan tim untuk ajang bergengsi FIFA Club World Cup 2025. Al Hilal tergabung di Grup H bersama raksasa Eropa Real Madrid, FC Salzburg, dan Pachuca. Turnamen ini bisa menjadi panggung pembuktian bagi Inzaghi, atau justru menambah daftar panjang masalah yang dihadapinya.
Dengan rekam jejak sukses di Inter Milan, termasuk satu gelar Serie A, dua Coppa Italia, tiga Piala Super Italia, dan dua kali final Liga Champions, Inzaghi diharapkan mampu membawa Al Hilal kembali ke jalur kemenangan. Namun, tekanan dari rival, cedera pemain kunci, dan jadwal padat menjadi ujian sesungguhnya bagi pelatih berusia 49 tahun ini di tanah Arab.