Dinamika hubungan antara dua megabintang Real Madrid, Kylian Mbappé dan Vinícius Júnior, terus menjadi sorotan publik. Namun, di tengah spekulasi dan rumor yang beredar, kedua pemain ini secara konsisten menunjukkan solidaritas yang kuat, baik di dalam maupun di luar lapangan. Mbappé, yang resmi bergabung dengan Los Blancos pada musim panas 2024, telah berulang kali menepis anggapan adanya rivalitas pribadi dengan Vinícius Júnior, menegaskan bahwa tujuan mereka adalah satu: membawa Real Madrid meraih lebih banyak gelar.
Kedatangan Mbappé ke Santiago Bernabéu pada 16 Juli 2024, setelah penantian panjang, memang memicu ekspektasi besar dan pertanyaan tentang bagaimana dua penyerang kelas dunia ini akan beradaptasi. Namun, Mbappé sendiri telah menyatakan bahwa ia datang ke Real Madrid dengan tujuan untuk bermain bersama Vinícius. “Saya datang dengan ide bermain dengan Vinícius,” ujarnya. Bahkan, Vinícius Júnior disebut-sebut berperan sebagai “agen” tidak resmi, yang secara rutin mengirim pesan kepada Mbappé setiap musim panas, menanyakan kapan ia akan bergabung.
Dukungan Tegas di Momen Krusial
Solidaritas antara Mbappé dan Vinícius semakin terlihat jelas dalam insiden terbaru yang mengguncang dunia sepak bola. Pada 18 Februari 2026, dalam pertandingan playoff Liga Champions melawan Benfica, Vinícius Júnior diduga menjadi korban pelecehan rasisme dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni. Mbappé dengan cepat dan tegas membela rekan setimnya, mengutuk tindakan Prestianni dan menyerukan tindakan serius dari UEFA.
“Apa yang saya lihat sangat jelas: nomor 25 mengatakan lima kali kepada Vini bahwa Anda adalah monyet. Semua orang bisa punya pendapat, tapi kami memberikan fakta dan semua harus bergerak ke arah yang sama. Perilaku semacam ini tidak dapat diterima,” kata Mbappé. Ia bahkan menambahkan, “Saya memanggilnya rasis karena saya pikir begitu. Anda bisa melihatnya di wajahnya—dia bersembunyi di balik kausnya untuk menutupi bibirnya. Orang seperti ini bukanlah rekan profesional.” Pernyataan ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan dan dukungan Mbappé terhadap Vinícius di luar urusan teknis lapangan.
Menepis Isu dan Kritik Fans
Selain insiden rasisme, Mbappé juga tidak ragu menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap kritik fans Real Madrid yang menargetkan Vinícius Júnior, Jude Bellingham, dan Federico Valverde. Pada Januari 2026, Mbappé mengkritik fans yang mencemooh Vinícius, menyatakan bahwa jika ada ketidakpuasan, seharusnya ditujukan kepada seluruh skuad, bukan hanya beberapa pemain.
“Saya memahami cemoohan itu, tetapi jika mereka akan melakukannya, mereka harus mencemooh seluruh skuad, bukan hanya beberapa pemain,” tegas Mbappé. Ia menambahkan bahwa Vinícius adalah pemain yang fantastis dan “manusia yang luar biasa,” serta tim harus melindunginya agar tidak merasa sendirian. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen Mbappé untuk menjaga keharmonisan tim, terutama di tengah tekanan performa dan pergantian pelatih dari Xabi Alonso ke Álvaro Arbeloa yang sempat memicu dinamika internal.
Performa Gemilang dan Rumor Transfer
Secara statistik, kedua pemain menunjukkan kontribusi signifikan bagi Real Madrid di musim 2025/2026. Mbappé memimpin daftar pencetak gol tim dengan 38 gol di semua kompetisi per 16 Februari 2026. Sementara itu, Vinícius Júnior, yang performanya disebut “terlahir kembali” di bawah asuhan Álvaro Arbeloa, telah mencatatkan 11 gol dan 9 assist dari 35 pertandingan hingga 20 Februari 2026.
Meskipun demikian, rumor transfer tetap menjadi bumbu penyedap di dunia sepak bola. Sebuah laporan pada 21 Februari 2026, mengklaim bahwa Mbappé telah meminta Real Madrid untuk menjual Vinícius Júnior dan menggantinya dengan Michael Olise dari Bayern Munich. Namun, rumor ini bertolak belakang dengan pernyataan publik Mbappé tentang hubungannya dengan Vinícius dan harus disikapi dengan hati-hati, mengingat sumbernya yang kurang kredibel dan kontradiksi dengan fakta-fakta solidaritas yang telah ditunjukkan.
Pada akhirnya, terlepas dari spekulasi media dan tekanan yang datang, Kylian Mbappé dan Vinícius Júnior tampak bertekad untuk membuktikan bahwa “rivalitas” mereka hanya terjadi di lapangan dalam upaya meraih kemenangan, sementara di luar itu, mereka adalah rekan setim yang solid dengan tujuan yang sama.