Megawati dan Rano Karno Bahas Solusi Banjir Jakarta Saat Hujan Deras Mengguyur

Author Image

Irfan

12 Januari 2026

Jumpa Pers Pdip (kurniawan Fadilah/detikcom)
Jumpa Pers PDIP (Kurniawan Fadilah/detikcom)

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkapkan adanya diskusi antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengenai penanganan banjir yang melanda ibu kota. Diskusi tersebut mencakup upaya penanganan darurat di lapangan hingga perumusan kebijakan jangka panjang.

Diskusi Strategis Penanganan Banjir

Hasto menjelaskan bahwa Megawati secara langsung berdiskusi dengan Rano Karno. Dalam pertemuan tersebut, Rano Karno menyampaikan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam penanganan banjir, yang juga menjadi perhatian serius bagi Pramono Anung dan Rano Karno sendiri. Upaya identifikasi langsung terhadap titik-titik genangan saat terjadi hujan deras menjadi salah satu fokus diskusi.

“Jadi Ibu langsung berdiskusi sama Mas Rano Karno. Lalu Mas Rano juga menyampaikan, karena sebelumnya kami ini kan sering diskusi best practices kepala daerah. Maka Mas Rano Karno menyampaikan bahwa ya tantangan-tantangan ini itu yang menjadi concern dari Mas Pramono dan juga Mas Rano,” kata Hasto dalam konferensi pers seusai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP di Ancol, Jakarta Utara, Senin (12/1/2026).

“Maka ketika terjadi banjir atau kemudian hujan deras, itu mereka punya upaya untuk mendorong bagaimana titik-titik genangan itu diidentifikasi langsung,” tambahnya.

Faktor Penyebab Banjir di Jakarta Utara

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menambahkan penjelasan Rano Karno mengenai penyebab banjir di wilayah Jakarta Utara, khususnya kawasan Ancol. Menurutnya, banjir tersebut disebabkan oleh kombinasi hujan deras yang terjadi bersamaan dengan pasang air laut (rob).

Kondisi ini menghambat aliran air menuju laut meskipun sistem pompa telah diaktifkan. “Pak Rano Karno langsung kasih penjelasan, terutama terjadinya genangan air, banjir di kawasan Ancol, sehingga memasang beberapa pompa untuk menyedot itu,” papar Djarot.

“Persoalannya adalah untuk wilayah Jakarta Utara ini, hujan yang deras kemarin itu juga diikuti dengan adanya rob, ya, kenaikan air laut. Sehingga, ya, sehingga air yang dari atas itu tidak bisa masuk ke laut,” jelasnya.

Solusi Jangka Panjang dan Berkelanjutan

Djarot menekankan pentingnya pengerukan waduk secara rutin dan pembangunan pintu air sebagai langkah antisipasi. Waduk-waduk di sekitar Jakarta Utara seharusnya dikosongkan sebelum hujan turun untuk memaksimalkan kapasitas penampungan air hujan.

“Jadi sebelum hujan turun itu waduk-waduknya sudah dihabiskan dulu airnya, dibuang ke laut, sehingga dia bisa menampung air hujan yang masuk. Itu dilakukan terus-menerus,” ujarnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menegaskan bahwa penanganan banjir di Jakarta memerlukan pendekatan yang berkelanjutan dan tidak bisa dilakukan secara tambal sulam. Penguatan tanggul juga menjadi aspek krusial dalam strategi penanggulangan banjir.

“Tetapi tadi dengan hujan yang mulai Subuh sampai tadi, ya, itu tidak mampu pompa-pompa itu, apalagi dengan air rob. Dengan demikian, maka, penanganan banjir di Jakarta ini harus memang berkelanjutan terus-menerus, ya. Tidak boleh sepotong-sepotong,” tegas Djarot.

Ia juga mengingatkan perlunya pembangunan struktur pelindung pantai seperti giant seawall mengingat tren kenaikan permukaan air laut. Beberapa bendungan yang ada dilaporkan mulai menunjukkan keretakan akibat kondisi tersebut.

“Termasuk juga zaman kita dulu, itu kita berkeinginan untuk membangun giant seawall, hati-hati seperti itu ya. Karena apa? Karena air laut itu naik terus, dan kalian tahu beberapa apa itu bendungan itu sudah mulai retak-retak dan rob. Maka harus diperkuat,” imbuhnya.