Berita

Megawati di Majelis Zayed Award: Pancasila dan Spirit Gotong Royong Satukan Indonesia

Advertisement

Abu Dhabi – Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menjadi salah satu pembicara dalam Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award 2026 yang diselenggarakan di Museum Nasional Zayed, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dalam kesempatan tersebut, Megawati memaparkan Pancasila sebagai falsafah pemersatu bangsa Indonesia.

Pancasila sebagai Fondasi Bangsa

Megawati menjelaskan bahwa Pancasila, yang terdiri dari lima dasar falsafah, telah dirumuskan jauh sebelum Indonesia merdeka oleh para pendiri bangsa, pejuang, dan seluruh rakyat Indonesia. Kelima sila tersebut adalah Ketuhanan, Kemanusiaan, Kebangsaan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial.

“Kami mempunyai dasar falsafah Pancasila, atau lima dasar falsafah bangsa kami, yang telah digumuli sebelum kemerdekaan oleh para pendiri, pejuang, dan dari rakyat Indonesia sendiri yakni Ketuhanan, Kemanusiaan, Kebangsaan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial,” ujar Megawati pada Selasa (3/2/2026).

Spirit Gotong Royong dan Kesetaraan

Inti dari Pancasila, menurut Megawati, terletak pada spirit gotong royong yang mampu menyatukan keragaman latar belakang masyarakat Indonesia. Lebih lanjut, Pancasila juga menjamin perlakuan yang sama bagi seluruh warga negara di mata hukum dan pemerintahan.

“Gotong Royong itulah yang telah membuat bangsa Indonesia yang beragam-ragam latar belakangnya itu dapat bersatu dan membangun negara dengan perlakuan dan hak yang sama di mata hukum dan pemerintahan bangsa kami,” jelas Megawati.

Advertisement

Ia menambahkan bahwa jaminan kesamaan hak ini juga diatur dalam konstitusi. “Jadi, maksudnya tidak ada perbedaan apakah itu laki-laki, perempuan, tua, muda, anak, miskin, atau kaya,” tegasnya.

Makna Panggilan ‘Bung’

Dalam paparannya, Megawati juga mengenalkan makna panggilan ‘Bung’ yang kerap dilekatkan pada Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Menurutnya, ‘Bung’ bukan sekadar sapaan, melainkan simbol kesamaan dan kesetaraan.

“Rakyat memanggil presiden pertama bukannya dengan ‘Yang Mulia’ atau tanda-tanda kehormatan, mereka menyebutnya sangat spesifik ‘Bung’. ‘Bung’ itu artinya betul-betul sebuah kata yang tidak membuat orang menjadi merasa terkotak-kotak. Sehingga kami sudah terbiasa memanggil presiden pertama yaitu Bung Karno,” ungkap Megawati.

Advertisement