Mendes Yandri Susanto: Membangun Indonesia Dimulai dari Desa, Bukan dari Atas

Author Image

Irfan

15 Januari 2026

Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikjogja
Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Boyolali – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa pembangunan Indonesia harus dimulai dari desa. Penegasan ini disampaikan dalam peringatan Hari Desa Nasional 2026 yang digelar di Lapangan Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Kamis (15/1/2026).

Fondasi Pembangunan Nasional

Acara yang dihadiri puluhan ribu kepala desa se-Jawa Tengah dan perwakilan asosiasi desa se-Indonesia ini berlangsung khidmat. Yandri Susanto menekankan bahwa desa adalah fondasi utama pembangunan nasional. Ia mengibaratkan desa sebagai akar kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

“Membangun desa sama artinya membangun Indonesia. Jika desa tertinggal, maka Indonesia juga akan tertinggal,” ujar Yandri dalam sambutannya.

Program Strategis Kementerian Desa

Dalam kesempatan tersebut, Yandri memaparkan sejumlah program strategis Kementerian Desa, salah satunya adalah program Desa Ekspor. Program ini bertujuan membuka akses langsung bagi desa ke pasar global.

Ia memberikan contoh keberhasilan Desa Kertasana di Pandeglang yang berhasil mengekspor kopi dan ikan ke Prancis, Inggris, dan Kanada. Selain itu, Desa Ngoran di Blitar mampu mengekspor alat musik gendang djembe ke Tiongkok melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan pendapatan mencapai Rp18 miliar per tahun.

“Ini bukti bahwa desa mampu menjadi motor ekonomi nasional jika diberi ruang dan dukungan,” katanya.

Kolaborasi Lintas Sektor

Selain penguatan ekonomi desa, Yandri juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ketahanan sosial. Kementerian Desa bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam mengembangkan program Desa Bersinar untuk pencegahan narkoba.

Bersama Kejaksaan Agung, dijalankan program Jaksa Garda Desa melalui digitalisasi pelaporan dana desa secara real time. Sementara dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), digagas Desa Siap Siaga yang memberdayakan masyarakat, termasuk mantan narapidana terorisme, melalui kegiatan ekonomi produktif.

Sejalan dengan Visi Presiden

Momentum Hari Desa Nasional ini sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin keenam yang menekankan pembangunan dari desa dan dari bawah untuk pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi, serta pengentasan kemiskinan.

Yandri mengingatkan bahwa Indonesia memiliki 75.266 desa yang tidak mungkin dibangun oleh satu lembaga saja. “Kita bukan superman, tapi super tim,” tegasnya.

12 Aksi Bangun Desa

Kementerian Desa menggagas 12 Aksi Bangun Desa. Aksi ini mencakup penguatan BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, desa tematik (Desa Lele, Desa Nila, Desa Melon, Desa Padi, dan Desa Jagung), Desa Wisata, Desa Ekspor, hingga dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berbagai inisiatif pendukung juga digelar, mulai dari Festival Bangun Desa, Liga Desa, hingga Festival Film Desa.

Deklarasi Boyolali dan Harapan Baru

Puncak peringatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Boyolali oleh seluruh peserta. Deklarasi tersebut berisi tekad bersama untuk melaksanakan program prioritas Presiden, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta menempatkan masyarakat desa sebagai pelaku utama pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Acara ditutup dengan pelepasan burung merpati oleh Mendes PDTT Yandri Susanto bersama jajaran menteri, wakil menteri, dan para undangan. Pelepasan burung merpati menjadi simbol harapan, persatuan, dan semangat baru membangun desa sebagai garda terdepan Indonesia.

Peringatan Hari Desa Nasional 2026 ini dipersembahkan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia, serta didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Pupuk Indonesia, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk.