Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengimbau seluruh maskapai penerbangan internasional yang memiliki rute tujuan atau melintasi kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini disampaikan menyusul eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan sekutunya Amerika Serikat (AS) yang kian memanas, berdampak signifikan pada operasional penerbangan global.
Menhub Dudy menjelaskan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah telah menyebabkan sebagian penerbangan internasional terdampak, termasuk pembatalan dan penyesuaian rute. Meskipun demikian, ada pula perjalanan yang hingga saat ini belum terpengaruh secara langsung.
“Untuk itu, kami mengimbau maskapai meningkatkan kewaspadaan dan penumpang secara aktif memantau perkembangan informasi,” ujar Dudy di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
Konflik antara Iran dan AS-Israel dilaporkan pecah pada Sabtu, 28 Februari 2026, setelah serangan udara dan rudal gabungan AS-Israel ke Teheran, yang kemudian dibalas Iran dengan meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Sebagai respons terhadap situasi ini, sejumlah maskapai asing telah membatalkan atau menghentikan sementara operasional penerbangan dari dan menuju kota-kota di Timur Tengah. Maskapai yang terdampak antara lain Etihad Airways, Qatar Airways, Emirates, Malaysia Airlines, Philippine Airlines, IndiGo Airlines, SriLankan Airlines, China Southern Airlines, Singapore Airlines, dan Scoot.
Beberapa maskapai lain menunjukkan respons bervariasi; Saudia Airlines masih memantau situasi di sejumlah kota tujuan Timur Tengah, Oman Air dilaporkan tetap beroperasi normal, sementara Ethiopian Airlines masih melayani penerbangan dengan pengecualian rute ke Amman (Yordania) dan Tel Aviv (Israel).
Di sisi lain, dua maskapai nasional Indonesia yang melintasi wilayah udara Timur Tengah, Garuda Indonesia dan Lion Air, hingga saat ini belum terdampak langsung untuk penerbangan menuju Jeddah. Namun, Garuda Indonesia telah menangguhkan sementara penerbangan dari dan menuju Doha, Qatar, mulai 28 Februari 2026, menyusul penutupan sementara wilayah udara Qatar. Selain itu, rute Garuda Indonesia menuju Amsterdam dialihkan melalui Kairo, Mesir.
Dampak konflik juga terasa di sejumlah bandara utama Indonesia. Berdasarkan data operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pada Minggu (1/3/2026), 20 dari 39 penerbangan rute Timur Tengah dibatalkan, baik kedatangan maupun keberangkatan. Secara keseluruhan, delapan penerbangan internasional di tiga bandara utama (Soekarno-Hatta, I Gusti Ngurah Rai, dan Kualanamu) mengalami pembatalan atau penundaan, dengan total 2.228 penumpang terdampak, terdiri dari 1.644 Warga Negara Asing (WNA) dan 584 Warga Negara Indonesia (WNI).
Beberapa negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah, telah menutup ruang udaranya untuk seluruh penerbangan komersial maupun pribadi. Menhub Dudy menegaskan bahwa aspek keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Kementerian Perhubungan terus berkoordinasi intensif dengan AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, pengelola bandara, serta otoritas asing untuk memperbarui informasi keamanan wilayah Timur Tengah dan memastikan kelancaran penerbangan.
Direktorat Jenderal Imigrasi juga telah meningkatkan kesiapsiagaan di seluruh Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) udara dan menginstruksikan petugas untuk berkoordinasi intensif dengan pihak terkait. Bagi jemaah umrah, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan keamanan mereka terpantau dan mengimbau agar tidak panik, serta terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing.