Menko PM: Ekonomi Hijau dan Daur Ulang E-Waste Beri Peluang Ekonomi Baru Masyarakat

Author Image

Irfan

11 Februari 2026

Foto: Dok. Kemenko Pemberdayaan Masyarakat
Foto: dok. Kemenko Pemberdayaan Masyarakat

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar, menyatakan bahwa konsep green economy dan circular economy tidak hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga merupakan peluang besar dalam pemberdayaan masyarakat dan pemerataan kesejahteraan.

Peluang Ekonomi Hijau dan Pemberdayaan Masyarakat

Muhaimin menekankan pentingnya transisi menuju ekonomi hijau yang dirancang untuk melibatkan masyarakat luas dan menciptakan nilai tambah di tingkat akar rumput. “Green economy dan circular economy bukan sekedar agenda lingkungan melainkan peluang besar bagi tumbuh kembangnya ekonomi sekaligus pemberdayaan masyarakat kita. Dalam konteks energi terbarukan juga masyarakat harus terlibat dan menjadi bagian dari upaya untuk terus menumbuhkan berbagai kebutuhan kemajuan kita,” tegas Muhaimin dalam keterangan tertulis pada Rabu (11/02/2026).

Pernyataan ini disampaikan Muhaimin saat memberikan Kuliah Umum (Studium Generale) di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat. Ia menjelaskan bahwa sektor-sektor seperti energi terbarukan, mineral kritis, agroindustri sirkular, hingga waste-to-energy memiliki potensi besar untuk pemberdayaan masyarakat.

Potensi Sektor Spesifik

  • Energi Terbarukan: Masyarakat dapat berpartisipasi dalam rantai pasok manufaktur komponen, operasi dan pemeliharaan, serta pengembangan bioenergi berbasis komunitas.
  • Agroindustri Sirkular: Limbah pertanian dapat diolah menjadi bioenergi dan biomaterial bernilai tambah, yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup petani dan koperasi.
  • Waste-to-Energy dan Pengelolaan Sampah Modern: Skema ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.

Muhaimin menyoroti pengelolaan sampah elektronik atau e-waste sebagai contoh konkret. “Inilah peluang nyata bagi masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, bila pengelolaan pemilahan dan daur ulang e-waste ini dilakukan secara terorganisir,” ujarnya.

E-Waste sebagai Sumber Ekonomi Baru

Peningkatan volume sampah elektronik global yang mencapai puluhan juta ton per tahun mengandung logam bernilai tinggi seperti tembaga, nikel, dan kobalt. Muhaimin berpendapat bahwa pengelolaan, pemilahan, dan daur ulang e-waste yang terorganisir dan berbasis teknologi dapat menjadi sumber ekonomi baru, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

“Inilah contoh konkrit bagaimana circular economy menjadikan masalah sosial sebagai sumber kesejahteraan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa peluang ini hanya dapat terwujud melalui orkestrasi ekosistem yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat.

Peran Strategis ITB dan Industrialisasi Hijau

Dalam konteks ini, ITB dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kapasitas sumber daya manusia (SDM) unggul, menetapkan standar teknologi, serta memastikan inovasi berdampak nyata. “Dari kampus ini circular economy harus bergerak dari konsep ke sistem, dari proyek ke ekosistem, dari wacana menjadi kehidupan nyata kita,” tegas Muhaimin.

Ia menegaskan bahwa industrialisasi yang hijau dan sirkular harus menjadi jalan Indonesia untuk naik kelas, menjadi lebih inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan sosial.